0
1
Komentar
Wednesday 12 July 2017 - 03:21

Kudeta Bin Salman dan Nasib Klan Bani Saud

Story Code : 652689
Duo Mohammed
Duo Mohammed
Penggulingan Mohammed bin Nayef, 57, dari statusnya sebagai Putra Mahkota Arab Saudi oleh raja Salman dan menggantinya dengan anaknya sendiri, Mohammed bin Salman pada 21 Juni lalu berdampak pada stabilitas dan eksistensi kerajaan Bani Saud dimasa depan.

Lewat dekrit, Mohammed bin Salman 31 tahun diumumkan oleh sang ayah sebagai putra mahkota baru menggantikan sang sepupu, Mohammed bin Nayef. Keputusan tersebut katanya sudah disetujui oleh Dewan Suksesi Kerajaan yang beranggotakan para tetua dari klan al-Saud, dinasti penguasa kerajaan Dinosaurus. Dari 34 anggota, 31 menyatakan setuju dengan keputusan Raja tua Salman.

Tidak cukup mengkudeta Bin Nayef sebagai putra mahkota, Salman juga melucuti semua jabatan Bin Nayef, termasuk sebagai menteri dalam negeri, kepala intelijen, dan wakil perdana menteri, sisi lain, jabatan Mohammed bin Salman sebagai menteri pertahanan tetap melekat ditambah posisi baru sebagai wakil perdana menteri.

Bin Salman adalah anak tertua Salman dari istri ketiga, Fahdah binti Falah bin Sultan. Karirnya mulai banyak disorot saat ditunjuk sebagai menteri pertahanan pada 23 Januari 2015 yang menjadi menteri pertahanan termuda di dunia.

Dialah yang menjadi otak di balik serangan dan pembantaian di Yaman dan Suriah. Perang di Yaman telah menewaskan ribuan orang warga sipil. Mereka menjatuhkan bom di permukiman padat penduduk. Namun, tetap saja nama Mohammed bin Salman dielu-elukan di dalam negeri. Bin Salman terkenal sangat dekat dengan Donald Trump.

Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Bin Salman menjadi wajah publik Arab Saudi ketika Salman diangkat sebagai raja pada bulan Januari 2015. Tidak mengherankan, media Arab yang sial itu hiruk-pikuk menyuguhkan kepada dunia soal kebajikan-kebajikan yang sebenarnya tidak ada pada pangeran miskin pengalaman tersebut. Seandainya pun, raja menunjuk seekor unta sebagai putra mahkota, media Saudi juga akan menyuguhkan kebajikan unta tersebut.

Di dalam negeri, Bin Salman dianggap sebagai penyebab bencana kerajaan yang terguncang akibat beberapa kegagalan kebijakannya. Perang Suriah sejak 2011 lalu, dan perang Yaman yang diotakinya yang dimaksudkan untuk memperkuat kepercayaannya. Tapi fakta berbicara lain, dari dua kasus besar itu, yang terjadi adalah sebaliknya, Bin Salman justru mengekspos ketidakmampuannya dan juga kemampuan angkatan bersenjata Saudi meski memiliki kekuatan senjata yang besar dan modern buatan AS. Jika bin Salman mampu menyebabkan kelaparan massal dan penghancuran negara termiskinkan di Yaman adalah keunggulan dan prestasi kesuksesannya, maka dia dapat dianggap sangat "sukses". Namun, yang terjadi di Suriah dan Yaman adalah barbarisme paling buruk dalam sejarah peradaban. Dan tidak sampai disitu, duo serakah, ayah-anak ini kian menambah kesengsaraan muslimin dengan membawa Qatar dalam konflik yang dalam sepekan ini hampir meledakkan meja Dewan Kerjasama Teluk (PGCC).

Dengan catatan kegagalan demi kegagalan seperti itu, Bin Salman seharusnya dipecat, bukannya pengesahan kudeta penyerobotan posisi Putra Mahkota. Bin Salman memakai kegagalannya sebagai lencana kehormatan, sementara ayahnya dengan bangga memutuskan untuk menjadikannya sebagai raja masa depan.

Beberapa spekulasi muncul, Salman dalam waktu dekat akan melepaskan jabatannya demi kebaikan anaknya sehingga memastikan "transisi mulus", meski dinamika internal Kerajaan mungkin tidak begitu dapat menerima.

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa sekarang? Bukankah banyak kegagalan yang dilakukan Bin Salman? Dan satu-satunnya prestasi yang dapat ditemukan adalah saat kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Arab Saudi pada 20-22 Mei 2017. Kunjungan Trump ini diproyeksikan sebagai pencapaian puncak kesuksesan Kerajaan, lebih khusus lagi Bin Salman yang telah menjalin hubungan dekat dengan Trump dan juga menantu Yahudi-Zionisnya Jared Kushner.

Persahabatan seperti itu ditebus dengan harga yang sangat mahal -, $ 350 miliar untuk dilepas ke Amerika selama periode 10 tahun ,- dan hal itu dianggap sebagai harga kecil.

Bahkan orang-orang Israel pun sangat gembira atas penunjukan Bin Salman sebagai putra Mahkota. Pada tanggal 22 Juni lalu, Menteri Intelijen Yisrael Katz secara terbuka mengundang Bin Salman berkunjung ke Tel Aviv dan mengirim Benjamin Netanyahu ke Riyadh untuk menjalin hubungan diplomatik. Fenomena ini tidak dapat diabaikan begitu saja, karena kedua rezim tersebut sebelumnya mengumumkan rencana untuk membangun hubungan ekonomi kuat. Jelas, ini adalah langkah untuk sebuah hubungan diplomatik penuh.

Alat peraga dan penguat eksternal ini mungkin tidak cukup untuk mengatasi badai internal yang dipastikan akan meletus begitu Salman meninggal. Sebab, anggota klan Saudi lain sampai sekarang menunda keputusan para tetua - anak laki-laki Abd al-Aziz - tapi ini mungkin tidak berlaku untuk generasi berikutnya.

Sisi lain, paman Bin Salman dan ribuan sepupu akan mengangkat isu tentang kegagalan kebijakannya. Jika sampai sekarang Bani Saud mampu mempertahankan solidaritas klan, justru karena mereka takut semua orang akan kehilangan tahta dan kue kekuasaan jika keadaan berantakan. Andai kebijakan Bin Salman selama ini justru dianggap menumpuk banyak bencana dan petaka, maka tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa anggota klan tidak akan membiarkan kegagalannya akan terus berlanjut yang tentu saja anggota klan lain tidak akan tetap berdiam diri. Mereka akan menuntut pemecatannya sebelum Bin Salman menghancurkan semuanya.

Skenario yang mungkin adalah mendorong Bin Salman keluar sebagai raja, tapi pertanyaan tentang suksesi akan tampak besar, mengingat taruhannya adalah setiap orang akan mempertahankan bahwa Bin Salman paling memenuhi syarat untuk mengambil alih kekuasaan dan saat itu peperangan klan pasti akan meletus.

Begitu berakhirnya pertumpahan darah dan begitu banyak tergorok tenggorokan-tenggorokan, mungkin tidak banyak yang tersisa dari klan Bani-Saud. Dan kita tentu tidak bisa menunggu hari-hari seperti itu terjadi. [Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times]
 
Artikel Terkait
Comment


Lilik
Iran, Islamic Republic of
Bagus antar sesama klan saling berebut kekuasaan.... _setelah itu wahabi akan habis dari muka bumi... bumi damai dan sejahtera....
{DOC_TRANSLATES_BLOCK}