Pilpres Mesir, Sisi Menang dengan Meraup 92 Persen SuaraKemitraan Trans-Pasifik (TPP) Versus Islam adalah SolusiKonvoi Tentara Turki Dikerahkan ke Jisr al-ShughourHakim AS: Arab Saudi Bisa Diadili Atas Serangan 11 SeptemberRusia Gagalkan Puluhan Pelaku Pembom Bunuh Diri TakfiriMega Skandal Menjerat Benjamin NetanyahuMalaysia Tangkap 11 Orang Diduga Terkait ISISKrisis Maladewa, 11 Kapal Perang China Masuki Samudera HindiaGawat, Indonesia Diserbu Berton-ton NarkobaOperasi Pemindahan Jenazah Korban Pesawat Jatuh Masih Berlanjut
 
 
 
 
 
Silahkan register.
 
 
Tanggal Berita : Monday 1 January 2018 - 16:40
Share/Save/Bookmark
Gejolak Politik Yordania:
Yordania Menolak Laporan Kudeta setelah Raja Menurunkan Saudaranya dari Jabatan Tentara
Abdullah II - Jordan
 
Abdullah II - Jordan's King.jpg
 
IslamTimes - Istana kerajaan Yordania membantah rumor tentang rencana kudeta yang muncul setelah Raja Abdullah pekan lalu menurunkan kedua saudara kandungnya dari jabatan tentara dalam sebuah perubahan besar.
 
Istana tersebut selanjutnya mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang menyebarkan "kebohongan dan klaim palsu" di media sosial dan situs online yang bertujuan mendorong perpecahan dalam keluarga kerajaan dan rakyat Yordania.

"Berita palsu yang beredar akhir-akhir ini ditujukan untuk merongrong Yordania dan institusi-institusinya," kata istana tersebut.

Pada tanggal 26 Desember, raja tersebut mengatakan bahwa saudara laki-lakinya Pangeran Ali dan Pangeran Faisal dan sepupunya Pangeran Talal akan pensiun untuk membuka jalan bagi reorganisasi dan struktur hierarki angkatan bersenjata.

Pangeran Faisal adalah kepala angkatan udara kerajaan dan wakil kepala staf, sementara Pangeran Ali telah memimpin penjaga kerajaan yang bertanggung jawab atas perlindungan raja selama bertahun-tahun.

Talal Bin Mohammad, seorang lulusan Sandhurst yang adalah seorang perwira di pasukan elit, juga dibebaskan dari tugasnya. Mereka semua diberi promosi kehormatan.

Sebuah sumber tentara mengatakan bahwa keputusan raja tersebut didorong oleh keinginan untuk memberi contoh bahwa keluarga penguasa Hashemite tidak berada di atas hukum menjelang langkah yang diantisipasi untuk menyingkirkan sejumlah jenderal besar militer.

Rencana restrukturisasi tersebut bertujuan untuk menata kembali 120.000 tentara yang kuat dengan memotong biaya dan menciptakan kekuatan yang lebih ramping dan efektif yang diperlengkapi dengan peralatanperang modern untuk melawan kelompok teroris, raja yang merupakan komandan pasukan elit setempat mengatakan.

Namun beberapa laporan baru-baru ini mengatakan bahwa ketiga pangeran tersebut sedang mengatur sebuah kudeta dalam kerja sama dengan pimpinan UAE dan Saudi. Amman membantah klaim tersebut.[IT/r]
 
Kode: 693918