The Smile Returns, Senyum Itu Kembali

The Smile Returns, Senyum Itu Kembali

The Smile Returns, Senyum Itu Kembali

27 May 2010 14:18

Kebebasan akan terus dituntut, pembebasan terus diusahakan, nafas-nafas sengal itu akan lepas lega, suara-suara parau akan menggema penuh asa, jeritan-jeritan pilu akan melantunkan syair kemenangan. Dan, perlawanan akan terus menggelinding, memecah ketenangan bohong, membongkar kedamaian palsu. Perlawanan menyatakan untuk yang kesekian kalinya bahwa Zionis Israel itu kecil, lemah dan akan selalu keok!.


Di Lebanon, setiap tanggal 29 Januari akan dikenang rakyat di sana sebagai ‘Hari Pembebasan’ (Yaumul Hurriyyah wal-Tahrir). Hasan Nasrullah, pemimpin Hizbullah, mentasbihkan hari itu untuk selama-lamanya. Sialnya, di zaman yang disebut-sebut dengan Dunia Demokrasi yang –kata Giddens- membuka banyak peluang dan ruang untuk mengambil pilihan dan tindakan, ternyata masih ada peristiwa besar tentang kebebasan dan pembebasan. Kelugasan informasi memperlihatkan pencekikan nafas-nafas sengal bangsa Palestina, suara-suara parau bangsa Lebanon, dan jeritan-jeritan pilu umat Islam. Kecerdikan media menampungnya sebegitu rupa seakan dunia berlalu dengan ketenangan dan kedamaian.

Tepatnya, hari Rabu 16 Juli 2008, Hizbullah telah mampu membebaskan 340 tahanan dan 59 mayat dari bui Zionis Israel dengan ongkos dua mayat dan satu kolonel hidup Yahudi Zionis. Ini berarti, satu kepala Yahudi Zionis sebanding dengan 133 kepala muslim. Bisa dibayangkan betapa Zionis terpukul berat oleh satu aksi mati syahid yang dilakukan gadis Palestina di Tel Aviv yang menewaskan lebih dari 50 nyawa Zionis waktu itu. Berat, karena angka 50 di mata Zionis Israel sama saja dengan 6650. Bagi bangsa Palestina sendiri, mereka tidak menerima kematian gadis itu sebagai kehilangan. Ia mati sebagai martir, dikenang sebagai pahlawan, tetap hidup sebagai simbol perlawanan. Kalau pun harus merasakan kehilangan, kepedihan ini tidak seberapa ketimbang lipatan kepedihan yang diderita orang-orang Zionis Israel. Akankah kita masih saja memandang tidak berarti kerikil dan batu yang dilemparkan bocah-bocah di sana?! Zionis Israel itu sudah capek, mental mereka hancur.

Sekali lagi, satu kepala Yahudi Zionis berbanding 133 orang Palestina. Biasa kita dengar kalau Zionis Israel selalunya menuntut 10 nyawa orang Palestina atau Lebanon dari satu korban nyawa infitadhah (perlawanan). Artinya, harga kepala orang Zionis Israel menjadi jauh lebih mahal lagi. Biasanya, 1 berbanding 10, sekarang 1 berbanding 133. Dari sana pula kita dengar pembenaran diri rezim Zionis bahwa tawanan sebanyak itu dibebaskan hanya karena mereka tidak begitu berharga, sehingga didagangkan senilai dua mayat dan satu kepala kolonel hidup Yahudi. Zionis Israel itu menang. Tabrik.

Barangkali, orang Perancis lebih suka menyebut kemenangan ini dengan sebutan succes de scandale. Masalahnya adalah nyawa dan kebebasan. Betapa gusarnya keluarga tentara-tentara Zionis Israel yang masih mendekam di tahanan Hizbullah dan Hamas, sementara mereka menyaksikan anak-anak negara-negara Islam diterbangkan kembali secara terhormat dan seluruh dunia menyambut hangat. Apa artinya dua mayat satu kepala hidup yang dikeluarkan dari jumlah besar tahanan Yahudi di bui Hizbullah. Karena hal itu, berapa banyak aksi mogok warga dan militer menentang politik teroristik Sharon waktu itu. Lebih dari 10 miliyar dolar kerugian ekonomi yang ditanggung Zionis Israel, belum lagi defisit negara lebih dari separuh. Retorika itu sudah parau, kalah di dalam Zionis Israel, keok di luar Zionis Israel. Akankah kita masih saja memandang tidak berarti kerikil dan batu yang dilemparkan bocah-bocah di sana?!

Dua tahun lalu, Hizbullah telah mampu membebaskan jumlah tahanan sebanyak itu setelah melakukan perundingan alot selama dua tahun. Tampak bagaimana Al-Manaar menayangkan live kedatangan mereka, turun dari pesawat penuh bangga, disambut hormat sementara pejabat-pejabat tinggi berbaris rapi menunggu giliran salam. Mereka diarak di atas duyunan ratusan ribu rakyat. Di hadapan khalayak, pemimpin Hizbullah itu mengingatkan kita bahwa dunia Islam tidak menerima pembebasan mereka karena rengekan Hizbullah dan kemurahan Zionis Israel, bahwa Hizbullah telah membebaskan mereka melalui perundingan yang berwibawa dan penuh harga diri.

Ketika dunia membodohkan perlawanan batu bahkan senjata terhadap Zionis Israel, Hizbullah tampil maju. Ketika negara-negara Arab minder, kecut, kerdil, bersama rakyat Palestina Hizbullah dan Hamas bergerak sampai di garis terdepan. Ingat Arab! Anda itu enak makan dan tidur nyenyak di garis paling belakang karena perlawanan mereka di garis terdepan. Tanpa mereka, adakah jaminan Anda selamat dari kebrutalan Zionis Israel?! Dan dunia Islam, muslim manapun yang nonton batu dan katyuza dari jauh, sungguh berhutang pada mereka yang mau mengorbankan diri untuk berdiri dan menyusup di barisan musuh.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya 25 Mei 2000, lagi-lagi Hizbullah berhasil menyapu habis basis-basis kekuatan Zionis Israel dari wilayah selatan Lebanon. Zionis Israel dipaksa puas dengan dataran sekecil desa yang tidak lagi berarti. Rakyat dan pemerintah di sana tumpah berbaur di ruas-ruas jalan, menyambut sisa besar kemerdekaan mereka. Bersama mereka, Hizbullah balik membodohkan dunia. Ia berhasil meyakinkan organisasi-organisasi intifadzah di Palestina bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan merebut hak, bahwa Zionis Israel itu sudah keok, jiwa dan nuklirnya tidak lebih besar dari mulutnya!.

Setelah kemenangan besar itu, pada tahun itu pula yang malah diprediksikan media internasional sebagai masa vakum dan hari-hari libur Hizbullah. Dalam bidikannya, dunia diadaptasikan dengan sebuah opini bahwa Hizbullah sekarang sudah mati, tidak ada yang bisa dilakukan, hanya bisa perang, membunuh, menyusup dan menyelinap.

Ya….. 29 Januari 2008 adalah hari yang membuktikan Hizbullah tetap eksis dan senantiasa konsis. Dunia kaget, orang-orang yang akrab dengan amunisi itu ternyata bisa berdialog, berunding serta punya kesabaran yang cukup berdiplomasi dengan kebandelan dan keras kepala Zionis Israel selama dua tahun. Pemimpin Hizbullah itu kembali mengingatkan dunia bahwa, tidak ada hak dan kehormatan agama atau bangsa yang kita pertaruhkan di sepanjang perundingan, seakan menyitir apa yang disebut-sebut ‘perundingan damai’ yang selalu dipilih PLO dan orang-orang seperti Abu Mazin di bawah tekanan Barat. Nilai pertukaran ini sudah cukup menjadi bukti bahwa perundingan itu dimenangkan umat manusia, dan Zionis Israel lagi-lagi menuai kekalahan.

Dua tahun lalu, sementara upacara penyambutan 59 mayat syahid berlangsung penuh haru, tahanan-tahanan bebas menumpahkan air mata syukur mereka di hadapan doa kaum muslim dan bangsa dunia dan usaha Hizbullah, merebahkan tangis dan pelukan bersama sanak keluarga yang dipisahkan selama 6-15 tahun. Dari yang dibebaskan, Beirut hanya menyambut 23 tawanan bebas, sementara sisinya kembali ke tanah air masing-masing. 340 tawanan bebas itu berasal dari berbagai negara; Palestina, Mesir, Sudan, Maroko, dan negera Islam lainnya. Ucapan selamat mengalir selama seminggu ini atas kemenangan Hizbullah dan atas kemenangan umat manusia, dan Zionis Israel lagi-lagi kalah!.

Kepada dunia Islam, Hizbullah hendak meyakinkan bahwa misinya bukanlah sekte, mazhab atau Arabisme. Mereka datang untuk kemanusiaan. Kepada bangsa tertindas dunia, Hizbullah hendak mengatakan bahwa 29 Januari adalah hari besar untuk mereka semua. Kepada dunia, Hizbullah hendak memberikan catatan bahwa 29 Januari adalah peristiwa besar pertama dalam daftar tahun Masehi; sebagai hari kemenangan bangsa-bangsa tertindas dunia dan lagi-lagi Zionis Israel selalunya keok.

Empat tahun lalu dalam perang Tamuz, tepatnya musim panas tahun 2006 lagi-lagi Hizbullah meluluhlantakkan kekuatan adidaya Zionis Israel untuk beberapa kalinya. Dengan penuh kemarahan Tzipi Livni menyatakan: “Tak satu pun kekuatan militer dunia yang mampu menghadapi Hizbullah Lebanon”. Sejak itu, nama Hizbullah dan Hasan Nasrullah menjadi trend di bumi Eropa. Di London, para pemuda Inggris memekikkan nama Nasrullah sambil meminta kepada Hizbullah untuk sekali lagi menghancurkan Zionis Israel. Di Wina, Austria, anak-anak kecil begitu bangga berpose di samping poster Hasan Nasrullah. Di Jerman, poster-poster Nasrullah terpampang hampir di setiap sudut kota dengan imbuhan kata terima kasih Nasrullah Anda telah membebaskan kaum tertindas. Lagi-lagi bangsa tertindas dunia menang dan Israel Zionis keok.

Dua tahun lalu di Gaza, Palestina, tepatnya tanggal 27 Desember 2008 sampai 18 Januari 2009. Dengan nama operation cast lead, Zionis Israel harus menanggung malu. Merkava, Fosfor, dan nuklir tak berdaya dihadapan ketapel, kerikil dan senjata rakitan bocah-bocah Palestina. Saat itu, Menteri Urusan Strategi Israel, Avigdor Lieberman, dalam ?wawancaranya dengan Koran Haaretz menyatakan; “Agresi ke Gaza tidak ?menghasilkan kehancuran Hamas, tapi malah mengokohkan gerakan ini di ?kawasan.” Sekali lagi kemenagan kaum tertindas dan lagi-lagi Israel Zionis K.O dan tak berdaya.

The smile returns, senyum itu kembali. Di sana, di antara garis seberang Barat dan Timur, masih ada harapan besar di atas petak tanah kecil, berdiri persis di tengah peta besar dunia Zionis Israel Raya. Hizbullah dan Hamas itu sama seperti manusia lain. Mereka besar bukan karena postur, suara menggelegar dan kaki menghentak dalam parade. Manusia hanya akan menjadi besar dengan kekuatan hati dan harapan yang besar. “Tidak ada yang bisa menghujamkan kekuatan hati dan kebesaran harapan seperti yang dilakukan agama”, begitu tutur Bagir Sadr.

Kebebasan akan terus dituntut, pembebasan terus diusahakan, nafas-nafas sengal itu akan lepas lega, suara-suara parau akan menggema penuh asa, jeritan-jeritan pilu akan melantunkan syair kemenangan. Dan, perlawanan akan terus menggelinding, memecah ketenangan bohong, membongkar kedamaian palsu. Perlawanan menyatakan untuk yang kesekian kalinya bahwa Zionis Israel itu kecil, lemah dan akan selalu keok!.


kode topik: 26813

alamat topik: http://www.islamtimes.org/vdcexv8w.jh8pziarbj.html

Islam Times
  http://www.islamtimes.org