"... Senjata merupakan hasil dari keberadaan resistensi dan hambatan yang ada karena kehadiran musuh," Deputi Sekretaris Jenderal Hizbullah Syeikh Naim Qassem mengatakan pada TV Addounia Suriah, portal Lebanon Naharnet melaporkan pada hari Sabtu.
Kelompok itu mengulangi peringatan sebelumnya tentang permusuhan Israel terhadap perlawanan di Lebanon,dia menambahkan bahwa "Israel adalah bahaya nyata, kita tidak dapat memastikan, kita harus berada dalam kesiapsiagaan penuh (untuk perang). Kita tidak tahu kapan kejutan akan datang atau apa yang bisa terjadi di regional dan internasional. "
Hizbullah, juga merupakan anggota aktif dari pemerintah koalisi negara, telah berjuang mati-matian menghadapi penyerangan berdarah Israel ke Lebanon pada tahun 2000 dan 2006. Putaran kedua serangan, yang dikenal sebagai Perang 33 Hari, mengorbankan sekitar 1.200 warga Libanon, kebanyakan warga sipil, tewas.
Akhir bulan lalu, seorang menteri Israel memperkirakan akan ada serangan ketiga di tengah laporan bahwa Tel Aviv telah memobilisasi pasukannya.
Pejabat resmi Hizbullah, bagaimanapun, mengatakan belum menerima indikasi bahwa rezim Israel siap untuk memulai perang lain melawan gerakan (Hizbullah) atau di regional dalam waktu dekat.
Komentar orang-orang yang diikuti oleh Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri pada hari Jumat di mana dia menyerukan masyarakat internasional agar mengambil langkah-langkah untuk mencegah kemungkinan serangan Israel di negaranya.
Hariri memperingatkan Israel telah meningkatkan pelanggaran terhadap wilayah udara Libanon selama beberapa bulan terakhir, dalam upaya untuk meningkatkan perhatian atas berlanjutnya ancaman Israel terhadap Lebanon.
Mengomentari hubungan Hizbullah dengan Mesir ketka Kairo terus memberikan kontribusi untuk pengepungan Israel di Jalur Gaza, Qassem mengatakan, "rezim Mesir memiliki fungsi metode sendiri. Kami tidak menyetujui metode seperti itu." [IslamTimes/R]