Wednesday 27 January 2010 22:10
Share/Save/Bookmark
Partisipasi di Tengah Medan untuk Membela Revolusi dan Pemerintahan Islam
Rahbar mengatakan, "Hari ini, tugas paling penting yang ada di pundak semua orang khususnya para pemuda dan kalangan yang punya pengaruh adalah partisipasi di tengah medan untuk membela revolusi, pemerintahan Islam dan kepercayaan kepada para pengelola negara. Sedangkan tugas utama para pejabat negara adalah kerja keras tanpa henti dan secara universal serta bijak dalam upaya mengatasi semua kesulitan dan mendorong negara ini untuk bergerak maju dengan cepat."
Rahbar Ali Khamenei


Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan warga provinsi Mazandaran menyebut peristiwa sejarah sebagai pelajaran dan panduan bagi merajut jalan ke arah masa depan. Beliau menjelaskan bahwa keimanan dan partisipasi rakyat secara bijak di semua arena telah mematahkan seluruh skenario yang dirancang sepanjang tiga puluh tahun untuk merusak negara ini. 

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung peristiwa 6 Bahman tahun 1360 HS (26 Januari 1982) yang terjadi kota Amol, provinsi Mazandaran. Beliau menyebut peristiwa itu sebagai pentas patriotisme warga Amol yang mukmin dan revolusioner, seraya menandaskan, "Peristiwa itu sedemikian penting sehingga Imam Khomeini (ra) dalam surat wasiat beliau yang bersejarah menyebut peristiwa ini supaya tetap diingat oleh generasi-generasi mendatang."
Beliau menandasakan bahwa dari peristiwa sejarah yang mewarnai revolusi Islam pelajaran berharga harus dipetik, khususnya peristiwa 6 Bahman. Seraya mengangkat soal kegagalan berbagai bangsa dalam gerakan menuju cita-citanya, beliau menyebutnya sebagai akibat dari ketidaksiapan dalam menghadapi ancaman. Karena itu, salah satu pelajaran yang harus dipetik dari peristiwa sejarah adalah meningkatkan kesiagaan dalam mengantisipasi datangnya ancaman. 

Rahbar menyampaikan analisa tentang berbagai peristiwa yang terjadi selama 30 tahun usia revolusi Islam dan penyimpangan segolongan orang di tengah jalan yang memilih untuk berhadap-hadapan dengan rakyat. Beliau mengatakan, "Di awal-awal kemenangan revolusi, sekelompok orang yang mengklaim sebagai kalangan intelektual, mendukung suara rakyat, cinta rakyat dan mengangkat slogan demokrasi justeru mengangkat senjata melawan rakyat. Padahal, rakyat lah yang telah membayar mahal untuk tegaknya pemerintahan Islam ini."
Beliau mengingatkan esensi kelompok tersebut yang terdiri dari kelompok munafik, kafir, kebarat-baratan, bahkan ada yang menampakkan diri sebagai orang yang agamis. Pada tahap awal mereka menyoal prinsip-prinsip perjuangan Imam Khomeini (ra) dan sistem pemerintahan Republik Islam. Lambat laun strategi perlawanan pemikiran berubah menjadi perlawanan bersenjata dan kekerasan. Mereka inilah yang mengganggu rakyat dan pemerintah Republik Islam di tahun-tahun terjadinya perang. 

Pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan bahwa identitas Republik Islam tak lain adalah identitas, tekad dan keimanan rakyat Iran. Beliau mengatakan, "Berkat kemurahan dan hidayah Ilahi, di zaman itu rakyat terjun ke tengah gelanggang dan menggagalkan semua konspirasi musuh. Tentunya ini bukan berarti bahwa sudah tidak ada lagi konsprasi. Yang terpenting adalah bahwa rakyat sadar, ada di tengah medan dan terus bergerak maju sampai hari ini."
Mengenai sepak terjang kubu kontra pemerintahan Islam sepanjang 30 tahun terakhir, beliau menegaskan, "Ada dua kesalahan besar yang selalu dilakukan mereka. Pertama mereka merasa lebih unggul dan merasa punya posisi di atas rakyat. Kedua, mereka bertumpu pada dukungan musuh-musuh bangsa ini." 

Merasa unggul di atas rakyat akan membuat mereka tak segan menyebut rakyat ini sebagai bangsa yang awam ketika menyaksikan rakyat bergerak sesuai aturan dalam membuat keputusan atau berpartisipasi dalam pemilihan umum. Mengenai akibat dari kecenderungan bertumpu kepada dukungan musuh-musuh bangsa, beliau menjelaskan, "Sepanjang 30 tahun terakhir, pemerintah Amerika Serikat (AS), rezim Zionis Israel dan kaum Zionis di seluruh dunia tampil sebagai musuh paling bebuyutan bagi rakyat Iran. Dan kini pun mereka tetap menjadi musuh nomor wahid bagi bangsa ini. Bertumpu pada dukungan mereka tentu kesalahan yang sangat fatal." 

Beliau lebih lanjut mengingatkan, jika musuh terlihat masuk ke tengah medan kita hendaknya sadar telah terjadi kesalahan dan sesegera mungkin memperbaiki kesalahan itu.
Mengenai kegagalan semua skenario dan makar jahat AS terhadap Republik Islam Iran dalam selama tiga puluh tahun sejak kemenangan revolusi Islam, Rahbar mengungkapkan, "Kini ketika Republik Islam Iran berpuluh kali lipat lebih kuat dibanding masa awal revolusi, skenario baru musuh pasti kandas. Negara ini dengan kecepatan penuh bergerak ke arah kemajuan."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan keheranan beliau akan sikap musuh yang tak pernah mau belajar dari masa lalu sehingga berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Beliau mengatakan, AS secara terbuka mengumumkan telah mencadangkan dana sebesar 45 juta USD untuk membiayai program mengalahkan Republik Islam Iran lewat media internet. Langkah ini menunjukkan kebuntuan yang mereka alami. Sebab, AS sudah berpuluh kali mengalokasikan dana sebesar 45 juta USD untuk menumbangkan Republik Islam lewat jalur diplomasi, sanksi, spionase, perekrutan agen dan berbagai modus lainnya, yang kesemuanya kandas. 

Beliau lebih lanjut menyatakan, adalah sunnah ilahiyah ketika kita menyaksikan musuh tak mampu memahami dengan benar fakta yang ada pada revolusi Islam dan basis kekuatan rakyatnya. Rahbar menandaskan, "Musuh-musuh bangsa ini sejak lama telah menyusun agenda untuk menyulut kerusuhan dan kekacauan di Tehran. Namun coba saksikan, bukankah agenda itu hanya menghasilkan kesadaran dan kejelian rakyat yang lebih besar untuk membela Republik Islam?" 

Rangkaian peristiwa pasca pemilu justeru membuat rakyat Iran semakin siaga dan merasa berkewajiban membela sistem pemerintahan Republik Islam. Beliau mengingatkan bahwa skenario musuh terkadang dibuat untuk membuat Republik Islam berada dalam posisi reaktif sehingga terpaksa mau memberi konsesi kepada pihak lain. Namun, beliau menggarisbawahi, Imam Khomeini (ra) tidak pernah bersedia memberi konsesi apapun kepada mereka. "Semua harus tahu bahwa kami mewakili rakyat Iran atau mewakili diri sendiri tidak akan pernah memberi konsesi kepada siapapun," kata beliau tegas.
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menekankan bahwa bangsa Iran tak akan bersedia mundur dari hak-haknya. Beliau menambahkan, "Bangsa Iran ingin menjadi bangsa yang bebas, mandiri, terus melangkah maju ke depan, mengamalkan hukum-hukum Islam, serta kuat dalam membela hak dan keyakinannya. Salahkah jika bangsa ini punya keinginan seperti itu?"
"Sesuai ajaran Islam," kata beliau, "kami meyakini jika terjadi pergulatan antara haq dan batil, kebatilan akan kalah jika mereka yang memperjuangkan haq secara tulus resisten di jalan kebenaran. Pengalaman 30 tahun revolusi Islam telah membuktikan kebenaran fakta ini."
Mengenai tugas yang harus dilaksanakan para pejabat negara saat ini beliau mengatakan, "Tugas terpenting setiap individu rakyat dan pejabat negara, khususnya para pemuda dan mereka yang punya pengaruh di tengah masyarakat adalah mempertahankan rasa tanggung jawab untuk hadir di tengah medan." 

"Tak ada seorangpun yang berhak menafikan tanggung jawab ini. Semua orang harus merasa punya kewajiban membela pemerintahan Republik Islam yang merupakan manifestasi pembelaan kepada Islam, hak rakyat dan martabat negara," ujar beliau. 

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Rakyat selalu menunjukkan rasa tanggung jawab ini yang diantara contohnya adalah pentas 9 Dey yang lalu. Dan nanti pada hari 22 Bahman, rakyat Iran akan kembali mementaskan eksistensi, kesiagaan dan semangat seperti yang selama ini selalu mereka pentaskan." 

Tugas para pejabat negara, jelas beliau, adalah kerja keras secara terprogram untuk menyelesaikan semua kesulitan. Beliau menambahkan, "Para pejabat tiga lembaga negara dan semua pengelola negara harus memandang pekerjaan untuk rakyat secara terarah sebagai kewajiban dan jangan sampai melalaikan kewajiban ini meski hanya untuk sejenak." 

Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan bahwa gerak langkah negara jangan sampai lamban melainkan harus semakin cepat dan universal. Beliau menyatakan bahwa rakyat punya tugas untuk menaruh kepercayaan kepada para pengelola negara serta membantu dan mendukung mereka. "Salah satu target sasaran musuh adalah membuat rakyat tak lagi mempercayai pejabat negara. Untuk itu semua harus cerdas menyikapi masalah ini," kata beliau lagi.
Beliau menggarisbawahi bahwa membela pejabat negara jangan diartikan tak memberi peringatan atau melontar kritik membangun kepada pejabat. Mengingatkan dan mengkritik yang benar tak berbeda dengan kritik dan peringatan seseorang kepada rekan seperjuangan, bukan lantas dijadikan alasan untuk membuka pintu permusuhan. 

Rahbar menambahkan, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa tangan Allah yang Maha Kuat selalu membantu dan menolong bangsa ini. Dengan kemurahan dan inayahNya serta berkat doa Imam Mahdi (arwahuna fidahu) bangsa ini akan sampai ke puncak yang dicita-citakannya, dan musuh akan menjadi hina dan lemah di hadapan bangsa yang besar ini.
Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam memuji pengorbanan dan perjuangan warga Mazandaran yang mukmin, khususnya warga Amol. Beliau mengatakan, "Amol punya nama besar di berbagai bidang termasuk di medan perjuangan dan jihad di jalan Allah, di medan ilmu, faqahah, makrifat dan irfan. Saat ini pun para ulama asal kota Amol menjadi kebanggaan besar hauzah ilmiah dan kekayaan tak terhingga yang dimiliki oleh kalangan rohaniawan negara ini." 

Di awal pertemuan yang digelar untuk memperingati perjuangan dan pengorbanan rakyat Amol pada peristiwa 6 Bahman 1360 HS tersebut, Ayatollah Tabarsi wakil Wali Faqih untuk provinsi Mazandaran dan imam Jum'at kota Sari menyampaikan kata sambutan. Tabarsi menjelaskan perjalanan sejarah warga Mazandaran yang selalu dikenal sebagai pencinta Ahlul Bait Nabi Saw dan siap berjuang membela revolusi Islam. Menurutnya, peristiwa 6 Bahman dan partisipasi dalam perang pertahanan suci adalah contoh dari pengorbanan warga Amol dalam membela revolusi Islam. Ayatollah Tabarsi mengatakan, "Warga Mazandaran selalu siap membela cita-cita luhur Imam Khomeini dan nilai-nilai revolusi Islam serta patuh kepada perintah Pemimpin Besar Revolusi Islam." [IslamTimes/Khamenei/R]

kode topik : 19408
kirimkan topik ini kepada kawan
kirimkan topik ini kepada kawan
terima file dimaksud
terima file dimaksud
ruang terkait
ruang terkait
adres email :
pandangan anda :
tunjuk alamat email