Monday 31 January 2011 03:46
Share/Save/Bookmark
Dari Iran, Tunisia dan Mesir Hingga Amerika!
Islam Times- Amerika saat ini sedang dihadapkan kepada aksi protes akbar yang meminta perubahan dan menggeser rezim-rezim penguasa dengan cara yang sama seperti ditempuh rakyat Iran ketika menggulingkan rezim diktator Syah, herder setia Amerika.
Dari Iran, Tunisia dan Mesir Hingga Amerika!

Sudah mafhum bahwa Revolusi Islam Iran memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan revolusi-revolusi lain di dunia. Kendati kajian tentang ini secara historis telah banyak dilakukan, namun sisi-sisinya yang khas masih banyak yang tak tersentuh. Aspek-aspek itu terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan misalnya: Apakah ini adalah revolusi yang sebenarnya?

Bagaimanakah revolusi ini terjadi? Apakah revolusi ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi negara lain?

Kalau diperhatikan, terdapat banyak definisi berkenaan dengan kata “revolusi”. Ini diakibatkan oleh banyaknya sudut pandang yang dapat diberikan terhadap makna kata itu.

Secara leksikal misalnya dikatakan bahwa revolusi adalah pembalikan yang menempatkan bagian bawah di bagian atas dan bagian atas menjadi di bawah, dan secara filosofis, ia bermakna perubahan dari suatu wujud ke wujud yang lain (secara substansial). Sementara, secara politis, ia diartikan sebagai perubahan tiba-tiba dari suatu bentuk pemerintahan ke bentuk pemerintahan yang lain.

Begitulah, setiap orang dapat pula memberikan makna yang khas terhadap revolusi. Namun, paling tidak, kita dapat menyebutkan lima ciri-khas yang dapat memasukkan sebuah perubahan sebagai sebuah bentuk revolusi, yaitu: Pertama, adanya pemimpin. Kedua, adanya pastisipasi masyarakat secara luas. Ketiga, terjadinya kondisi chaos (kerusuhan). Keempat, penghancuran system atau nilai lama. Kelima, pengambilalihan kekuasaan.

Lima kriteria di atas, dapat diaplikasikan ke beberapa perubahan di sejumlah negara sebagai sebuah revolusi, yaitu Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi China, Revolusi Cuba, dan Revolusi Islam Iran.

Ini berarti, tak semua perubahan yang terjadi masuk dalam kategori sebuah revolusi, dan masuk dalam kategori tersendiri, seperti kudeta (yang hanya melibatkan sejumlah kecil orang), pemberontakan (yang hanya menuntut pemenuhan hak tertentu), reformasi (yang hanya menuntut perbaikan), ataupun gerakan kemerdekaan (dan separatisme).

Bagi Muthahhari, dalam revolusi ada nilai tambah selain diatas. Yakni penyebab sebuah revolusi dapat berupa faktor-faktor materi ataupun non-materi, yaitu faktor ekonomi, kebebasan, atau upaya untuk membentuk sebuah negara ideal.

Terkait dengan persoalan apakah gerakan di Tunisia, lalu Mesir, apakah bisa disebut sebagai gerakan revolusi? Terdapat dua per tentangan didalamnya. Kelompok pertama dari kalangan Strukturalisme menafikan kemungkinan untuk menciptakan sebuah revolusi. Ibarat sebuah pohon, maka ketika buahnya telah matang, ia akan jatuh dengan sendirinya. Tak ada rekayasa apapun yang dapat dilakukan. Namun bagi kalangan kedua, yakni aliran Fungsionalisme, sebuah revolusi dapat diciptakan secara sadar. Dimanapun dan kapan selama dasar factor peimcunya terpenuhi. Pasca Revolusi Islam, banyak penganut Strukturalisme yang beralih menjadi penganut Fungsionalisme.

Yang jelas, gerakan yang terjadi di Mesir saat ini telah merubah situasi Timur Tengah penuh waswas dan ketakutan. Utamanya adalah Amerika dan Israel. Negara-negara Barat dan Amerika satu persatu merasa terancam, sebab rezim-rezim diktator yang selama ini menjadi boneka Amerika dan loyal mutlak kepada Amerika tengah di goyang keras oleh kekuatan rakyat.

Timur Tengah menggulirkan proses perubahan mendasar yang akan menyingkirkan rezim-rezim representasi penting dalam stabilitas di kawasan yakni Mesir dan Libanon. Masing-masing memiliki urgensi khusus, bahkan Amerika membutuhkan strategi penting untuk ini.

Mesir misalnya adalah kompas keamanan asasi dalam hal menjaga keamanan dan kelangsungan hidup dan matinya (negara) Israel. Mesir adalah benteng terakhir dalam memenjarakan jutaan manusia di Jalur Gaza. Firaun ber-igal yang menjadi pemimpin proyek perdamaian semu Arab – Israel. Sementara Libanon adalah ujung tombak poros perlawanan dan obsesi geopolitik perlawanan dan muqawamah di kawasan.

Amerika saat ini sedang dihadapkan kepada aksi protes akbar yang meminta perubahan dan menggeser rezim-rezim penguasa dengan cara yang sama seperti ditempuh rakyat Iran ketika menggulingkan rezim diktator Syah, herder setia Amerika.

Hansip dunia kini diselimuti kabut dilematis. Klaim kredibilitasnya pendukung demokrasi dan kebebasan sedang ditelanjangi. Amerika dihadapkan dua pilihan mendukung rezim yang dianggapnya sebagai tiang stabilitas dan eksistensi bagi dirinya atau menolak gerakan rakyat disana yang menginginkan perubahan, mengakhri era korup, represif, membungkam mulut dan pelanggaran HAM.

Dan Mesir adalah poros utama bagi perubahan perpolitikan Amerika di kawasan, kejatuhan rezim ini berarti kejatuhan politik Amerika di kawasan Timteng. Berubahnya wajah Mesir berarti berubahnya wajah kawasan TimTeng, dan kembalinya Washington ke titik nol dan lenyapnya (negara) Israel dari peta dunia. Cepat atau lambat.

Di Libanon, Amerika sudah tak bermuka lagi saat Perdana Mentri jatuh ke tangan Najeb Miqati dukungan Hizbullah. Amerika kehilangan tajinya ketika melepaskan para pendukung di jalan-jalan untuk melakukan tindakan kekerasan, memblokade jalan-jalan, membakar ban memprotes penunjukan ini dan mendukung mantan PM Saad Hariri, bocah imut dan lugu yang dijadikan sebagai bidak Amerika dan Israel di Libanon.

Saat ini, meski rezim Mesir mengerahkan sekitar 1 juta personelnya untuk menjaga, namun roda perubahan sudah mulai berputar dan sulit dihentikan, tinggal tunggu waktu. Dan itu berarti kita sedang menanti terhapusnya (negara) Israel dari peta dunia.

Terakhir, untuk memahami apakah gerakan rakyat di Mesir adalah gerakan revolusi, maka bisa kita cari cirinya lewat kriteria ini, bahwa setiap gerakan revolusi secara umum memiliki dasar, yaitu kepemimpinan, ideology, dan partisipasi rakyat. Dan biasanya, ketiga dasar ini berada pada puncaknya yang tertinggi. [Islam Times/K-014/On]
kode topik : 52663
kirimkan topik ini kepada kawan
kirimkan topik ini kepada kawan
terima file dimaksud
terima file dimaksud
ruang terkait
ruang terkait
adres email :
pandangan anda :
tunjuk alamat email