Tuesday 28 February 2012 01:41
Share/Save/Bookmark
Hegemoni Global
Beda Nasib Mobil Esemka dan Iran Khodro Runna dan Dena
Islam Times- Sejarah sudah membuktikan kalau bangsa kita dan generasi kita punya kemampuan, kemandirian dan kecerdasan, cuma pemerintah dan pelacur-pelacur intelektual di negeri ini membuta tuli atas semua capaian keberhasilan dan karya anak sendiri.
Beda Nasib Mobil Esemka dan Iran Khodro Runna dan Dena

Ini benar-benar sensasional. Negeri yang di embargo dari berbagai sudut dan lini, kini menjelma menjadi macan dunia. Kemajuan demi kemajuan diraih melalui kerja keras dan tekat tak kenal lelah. Embargo yang diperlakukan oleh negara-negara arogan dianggapnya sebagai karunia terbesar ilahi. Sumber daya manusia handal, cerdas, berwawasan dan penuh semangat senantiasa dihargai tidak saja rakyat, juga pemimpinnya. Sebuah cita-cita besar bangsa yang benar-benar merdeka dan agama.

Mereka adalah bangsa yang mempunyai rasa bangga dan kehormatan yang sulit didapati dari bangsa-bangsa lain yang dikucilkan oleh dunia internasional. Ini semua berkat dan rahmat dari perjuangan yang namanya revolusi Islam. Begitulah titah Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran ketika memuji kehebatan anak-anak keturunan Salman Al-Farisi ini.

Pemimpin Besar Revolusi Islam ini mengatakan, monopoli sains dan teknologi oleh segelintir negara adalah adalah bentuk kedhaliman untuk menguasai dunia dan manusia. Mereka mengkhawatirkan keberhasilan bangsa-bangsa lain dalam meruntuhkan monopoli kedigdayaan mereka.

Di Indonesia, saat anak-anaknya mampu melakukan kreativitas dan pengembangan ilmu tehnologi dan sains, mulut-mulut dan tangan-tangan jahil mulai kasak kusuk buka seminar sana-sini membungkam kemandirian, kemampuan dan kehebatan anak-anak bangsa. Tidak hanya itu mereka yang umumnya adalah antek-antek asing berusaha sekuat tenaga memancung dan memengal kreativitas anak-anak bangsa.

Elit-elit di negeri kita tidak saja cukup bersyukur atas semua karunia sumber daya manusia handal, cerdas, berwawasan dan berjiwa mandiri, tapi juga melacurkan intelektualitasnya, memegafonkan kehebatan dunia Barat dan AS, bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan yang turun dari langit, satu-satunya kiblat dari semua kehebatan, kedigdayaan dan kemulyaan. Anak-anak bangsa cukup menjadi penikmat dan penonton. Anak-anak bangsa tidak akan pernah akan seajajar dengan Barat dan AS. Jika ada yang bilang bisa dan mampu, mereka adalah segelintir utopia dan pandir.

Contohnya adalah proyek Mobil Esemka, hingga saat ini, Kementrian Riset dan Teknologi, tak pernah peduli menyoal itu semua, mereka abaikan semua potensi untuk mencipta berjuta lapangan kerja, mereka tetap ANGKUH dengan kemandirian dan harga diri bangsa via meramu dan memproduksi sendiri semua jenis barang yang hingga detik ini masih harus kita beli dari pihak asing, dari yang ringan seperti peniti dan telepon genggam, hingga yang berderak kencang seperti mobil-mobil Jepang.

Bukankah selama ini yang menggelinding di jalan-jalan mulus negara kita hingga melubanginya adalah mobil produk Jepang, Korea, Eropa dan Amerika. Bahkan selama ini pula yang menyumbat jalan-jalan di kota-kota negara kita hingga sempit volume jalan raya adalah mobil impor. Mengapa malah menjatuhkan dosa itu kepada kreativitas anak-anak bangsa?

Kenapa pula, misalnya, pemerintah tak menggunakan sebagian dari belanja APBN untuk mendorong lahirnya mobil nasional sehingga yang menggelinding di jalan-jalan mulus negara tahun depan nanti tak lagi produk Jepang, Korea, Eropa dan Amerika? Kan aneh bukan?

Tapi sudahlah, ini semua menyangkut mentalitas dan moralitas. Apalagi sudah jelas kalau permasalahannya adalah ada satu piring yang kelak akan diisi dua nasi yang secara merk dan jenis berbeda, nasi produk asing dan nasi produk dalam negeri.

Bedanya adalah, untuk nasi produk yang pertama, peluang dan harapannya lebih menjanjikan ketebalan segelintir kantong-kantong necis elit-elit negeri ini. Hanya untungnya kita masih punya seorang Jokowi. Hanya seorang. Terlepas apa maksud dibaliknya.

Keadaan diatas berbeda dengan di negeri Mullah, industri mobil nasional negeri, Iran Khodro Co (IKCO), bersiap untuk menyajikan sebuah portofolio produk baru guna mencapai tingkat kualitas tertinggi. Sokongan pemerintah, rakyat dan swasta menjadikan negeri ini mampu melahirkan mobil-mobil nasional bertehnologi nano. Press TV, Ahad (26/2).

IKCO bertekad untuk memperbaharui ekspor portofolio produk dan mempercepat proses penjualan mobil di pasar internasional. IKCO optimistis, Runna dan Dena bisa menjadi mobil baru yang kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional.

Runna akan diluncurkan ke pasar domestik dan internasional pada akhir April 2012. IKCO berencana untuk memproduksi 50 ribu sedan Runna pada tahun 2012.

Sedangkan Dena direncanakan untuk diproduksi pada platform Samand dalam dua model LX dan ELX, menggantikan Samand secara bertahap. IKCO bermaksud untuk mengekspor 10 ribu sedan Dena ke negara-negara Timur Tengah, Rusia, Turki, Afrika,dan Amerika Selatan.

IKCO yang didirikan pada tahun 1962 telah menjelma menjadi produsen mobil terbesar di Timur Tengah. Perusahaan Iran memenangkan penghargaan dalam Festival Internasional Nano Teknologi Ketiga Tehran pada 2010, sebagai perusahaan terkemuka menyangkut nano industri otomotif.

Tapi yang jelas, bangsa kita di Republik Indonesia ini membutuhkan Jokowi-Jokowi lain dan orang-orang yang diutopiakan dan dipandirkan. Tidak hanya sekedar menyoal mobil nasional, tapi bidang-bidang teknologi dan pengetahuan lainnya.

Sejarah sudah membuktikan kalau bangsa kita dan generasi kita punya kemampuan, kemandirian dan kecerdasan, cuma pemerintah dan pelacur-pelacur intelektual di negeri ini  membuta tuli atas semua capaian keberhasilan dan karya anak sendiri. Mereka hanya melindungi kepentingan kapitalis dan menjadi herder bagi segelintir taipan kaya raya di negeri ini. [Islam Times/On/K-014]
kode topik : 141404
kirimkan topik ini kepada kawan
kirimkan topik ini kepada kawan
terima file dimaksud
terima file dimaksud
ruang terkait
ruang terkait
adres email :
pandangan anda :
tunjuk alamat email