Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengenai peristiwa tanggal 19 Dey tahun 1356 HS atau 9 Januari 1978 di kota suci Qom, menegaskan, "Peristiwa kebangkitan warga kota Qom tanggal 19 Dey 32 tahun yang lalu yang diwarnai oleh beberapa kriteria di antaranya kearifan, kecerdasan dalam mengenal waktu dan lawan, dan jihad telah menjadi pencetus perubahan besar yang terjadi di tengah bangsa Iran, dan sampai kini peristiwa itu tetap menebar pelajaran dan sangat berpengaruh."
Mengenai tekad dan jihad umat manusia, beliau menyebutnya sebagai hal yang membedakan satu hari dari hari-hari yang lain, seperti peristiwa yang terjadi pada tanggal 19 Dey 1356 HS. Beliau menambahkan, "Peristiwa tanggal 9 Dey tahun ini (30 Desember 2009) termasuk dalam kriteria hari-hari yang bakal kekal dalam sejarah berkat gerakan kolosal rakyat Iran."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung kondisi kotor ketika fitnah terjadi, seraya mengingatkan, "Dalam kondisi seperti ini, tindakan rakyat punya pengaruh yang berlipat ganda, di sana nampak spirit menerima kepemimpinan, spirit Imam Husain bin Ali (as), dan ini seperti yang biasa disebut oleh Imam Khomeini dengan manifestasi kekuatan tangan Ilahi."
Rahbar mengingatkan bahwa kondisi fitnah membuat pekerjaan lebih berat dan penentuan sikap lebih sulit. Seraya menjelaskan sikap kelompok pemicu fitnah di medan Perang Shiffin menghadapi Amirul Mukminin (as), beliau mengatakan, "Dalam kondisi yang sulit dan samar seperti itu, Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat yang setia, khusus dan selalu loyal kepada Imam Ali (as) terjun memberikan pencerahan kepada masyarakat. Beliau mengingatkan kepada mereka yang ragu-ragu bahwa tak ada perbedaan antara pasukan yang melawan Rasulullah Saw dan musuh-musuh Imam Amirul Mukminin (as) kecuali dalam satu hal, yaitu bahwa pasukan yang berperang melawan Imam Ali secara lahiriyah mengaku berada di jalan Islam, serta mengimani Al-Qur'an dan Nabi Saw."
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Sejak awal kemenangan revolusi Islam dan sepanjang masa hidup Imam Khomeini (ra), Amerika Serikat (AS), Inggris, kekuatan-kekuatan arogansi dunia, rezim-rezim reaksioner yang mengekor kepada hegemoni kaum arogan dan anasir-anasir di dalam negeri selalu berdiri melawan Imam Khomeini dan revolusi Islam. Sekarang pun kondisinya demikian."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyoal, "Di manakah AS, Inggris dan media-media milik Zionis sebelum pemilihan presiden sampai saat ini? Di mana pula posisi kubu-kubu anti agama, semisal komunis Tudeh, kelompok pro rezim monarkhi, dan musuh-musuh Imam Khomeini dan revolusi? Bukankah mereka semua berdiri di bawah panji yang memerangi pemerintahan Islam? Posisi masing-masing tetap sama dan tidak berubah. Ini tentu menjadi bukti dan parameter yang penting."
Seraya menyebut pawai akbar rakyat Iran pada tanggal 30 Desember 2009 lalu sebagai buah dari kecerdasan dan kemampuan masyarakat memahami parameter yang sangat penting ini, beliau menandaskan, "Bersujud sebanyak ratusan kali untuk mensyukuri nikmat kecerdasan bangsa ini, jelas masih kurang."
Rahbar menyinggung kesadaran dan partisipasi rakyat di tengah medan sebagai faktor yang menjamin kelanggengan revolusi Islam dan negara ini, dan hal yang mencemaskan para pemimpin arogansi dunia. Beliau menambahkan, "Berbeda dengan propaganda media massa, masalah utama musuh negeri ini adalah kearifan bangsa Iran dan kecemburuan agama para pemudanya."
Lebih lanjut beliau mengimbau para pemuda untuk bisa menahan diri. Beliau mengatakan, "Meski ada gelora kecemburuan kepada agama, para pemuda hendaknya menahan diri dalam menyikapi berbagai hal. Namun ketika kondisi menuntut, mereka harus ada di tengah medan."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan untuk menelaah kegagalan arogansi dunia dalam membuat perhitungan terkait transformasi di tingkat global dan regional. Menurut beliau, hal itu penting untuk dapat menyimpulkan dengan benar rangkaian peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Iran. Beliau mengatakan, "Kesadaran rakyat Iran telah merusak perhitungan arogansi dunia. Kini, para ambisius yang rakus sengaja menebar huru hara dan keributan dalam rangka menghalangi umat Islam mengetahui fakta tentang kearifan bangsa Iran, sehingga kesadaran lebih besar di tengah bangsa-bangsa lain dapat dicegah."
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa wajar jika para pemuda Muslim dan Basij di Iran merasa sakit hati karena pelecehan yang dilakukan sekelompok orang terhadap Asyura dan Imam Husain (as). Beliau menambahkan, "Hati seluruh rakyat Iran terluka karena penistaan itu. Namun demikian, jangan sampai kita melakukan hal yang membantu musuh menyulut fitnah lebih besar."
Rahbar menyebut upaya musuh menyulut fitnah yang sistematis di Iran sebagai permainan yang sangat berbahaya. Beliau mengatakan, "Dalam kondisi yang samar seperti ini semua pihak harus bersikap hati-hati dan bertindak dengan bijak. Tentunya ketika diperlukan harus bertindak dengan tegas demi menggagalkan skenario musuh dalam menebar fitnah."
Pemimpin Besar Revolusi Islam menginstruksikan instansi-instansi terkait untuk menjalankan hukum dengan tegas terhadap mereka yang teribat dalam kerusuhan belakangan ini. Meski demikian beliau berpesan, "Mereka yang tidak punya wewenang hukum jangan sampai melibatkan diri dan mencampuri urusan seperti ini."
Beliau menyebutkan ajaran Al-Qur'an tentang keadilan dan sikap netral. Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Sebagian kalangan bertindak jahat dan menebar permusuhan, dan sebagian orang membela tindakan mereka. Namun, jika dalam kasus-kasus seperti ini kita tidak bertindak dengan jeli dan teliti, mungkin saja ada orang-orang yang menolak kejahatan tadi malah menjadi korban. Karena itu, semua pihak harus menghindari sikap-sikap anarkisme dan menyerahkan segalanya kepada hukum."
Gerakan kolosal rakyat Iran pada tanggal 30 Desember yang lalu, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, telah menyempurnakan seluruh alasan bagi semua orang. "Para pemimpin tiga lembaga negara telah menyaksikan sendiri apa yang dimaukan oleh rakyat ini. Karena itu, mereka harus segera melaksanakan dengan baik apa yang menjadi tugas mereka dalam menindak tegas para pelaku pengerusakan dan kerusuhan," tegas beliau.
Lebih lanjut Rahbar mengingatkan tugas para pejabat negara dan pengelola berbagai instansi negara terkait manajemen yang benar dan kelanjutan gerakan bangsa ke arah kemajuan. Beliau menandaskan, "Lewat rangkaian peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, musuh berusaha mengganjal gerak laju pertumbuhan ekonomi dan ilmu pengetahuan di Iran. Mereka berupaya merusak citra Republik Islam Iran yang tampil di pentas internasional dengan wibawa dan kebesaran. Untuk itu, para pengelola negara harus bertindak dengan bijak dan mantap dalam menjalankan tugas mereka di bidang ekonomi, sosial, sains, budaya dan politik demi menggagalkan upaya musuh tersebut."
Beliau menyebut kehadiran rakyat di tengah medan sebagai modal terbesar yang menopang sistem kenegaraan ini. Seraya menjelaskan propaganda miring dan tendensius media-media asing yang menyebut pawai akbar rakyat Iran sebagai pawai yang dimobilisasi oleh pemerintah, Rahbar mengatakan, "Dengan propaganda-propaganda semacam itu musuh secara tak sadar mengakui kebesaran pawai rakyat di Republik Islam ini. Sebab, tidak ada satu pun pemerintahan di dunia yang mampu memobilisasi massa sekolosal ini. Pawai akbar berlangsung dalam dua hari yang menyertakan lautan manusia dan puluhan juta orang terjun ke jalan-jalan."
Pemimpin Besar Revolusi Islam di akhir pembicaraan mengapresiasi kearifan dan kesiagaan bangsa Iran. Beliau mengatakan, "Di bawah naungan nafas hangat Imam Khomeini (ra) dan pengorbanan para syuhada yang mulia, rakyat dan pemerintahan di negara yang besar ini membentuk satu hakikat. Seluruh pejabat negara, termasuk saya, hanya ibarat tetesan kecil di tengah samudera rakyat yang agung ini." [IslamTimes/Leader/R]