Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei mengatakan bahwa musuh-musuh negara serta organisasi-organisasi imperialistik Zionis tidak mampu untuk memahami alasan ini dan itulah sebabnya mereka terus mengancam bangsa ini.
"Hari ini, tidak ada sistem seperti keberadaan(Negara ) Islam di dunia yang dapat berdiri tegar tidak tergoyahkan di hadapan beratnya propaganda permusuhan, sangsi tekanan politik dan ekonomi," kata Ayatollah Khamenei.
Pawai tahunan dijadwalkan hari Kamis, 11 Februari , ketika Iran memperingati ulang tahun kemenangan Revolusi Islam ke-31, yang menggulingkan rezim Pahlevi - sebuah monarki dukungan AS yang hancur karena pemberontakan rakyat - dan mengubah bentuk identitas politik negara.
Ayatollah Khamenei mengatakan rahasia stabilitas jangka panjang Revolusi Islam itu adalah orang-orang "menggantungkan diri pada Allah."
"Itu sebabnya setiap kali orang khawatir terhadap Revolusi dan rasa terancaman permusuhan, maka kerumunan besar orang, secara spontan dan tanpa pertemuan, turun ke jalan-jalan di seluruh negeri," kata Rahbar. "Dan itulah yang terjadi pada 30 Desember."
Jutaan orang berkumpul pada tanggal 30 Desember sebagai tanggapan terhadap perusakan upacara Asyura - acara keagamaan yang paling suci dalam Islam Syiah - yang diwarnai dengan huru-hara anti-pemerintah pada tanggal 27 Desember.
Iran telah menyalahkan Barat atas kerusuhan pasca pemilu - khususnya Britania Raya, Amerika Serikat dan Israel - dan unsur-unsur asing di dalam negeri.
Pada awal Januari, Ayatollah Khamenei memuji unjuk rasa Desember 30 dan berkata "puluhan juta orang berkumpul untuk meredakan intrik plot musuh."
Pada hari Senin, Pemimpin Revolusi Islam mengatakan kemegahan pawai itu begitu mengesankan bahwa Barat tidak bisa menyembunyikan arti pentingnya dan harus mengakui peristiwa itu.
"Begitu besarnya dan kehadiran jutaan orang-orang di jalanan pada 30 Desember berasal dari kehendak dan kekuasaan Allah," kata Ayatollah Khamenei. "Sejak pendirian (Negara) Islam yang merupakan gerakan ilahi, Allah membela dengan cara-cara seperti itu."
Karena musuh-musuh Iran tidak bisa menyadari bahwa mereka seharusnya tidak menghadapi kehendak Allah, kata Pemimpin, mereka berusaha untuk menggunakan "skema seperti hak asasi manusia dan demokrasi" untuk melemahkan Tehran. "Namun, opini publik dunia membenci taktik seperti itu."
"Mereka yang meneriakkan hak asasi manusia adalah orang-orang yang melanggar hak asasi manusia yang sangat mendasar dan menyetujui penyiksaan di penjara mereka."
"Pengiring demokrasi ini adalah mereka yang bersahabat dan bersekutu dengan tirani terburuk dan pemerintah reaksioner di dunia, termasuk di Timur Tengah dan Afrika Utara."
Ketika orang-orang di dunia membandingkan slogan dengan tindakan mereka, para Pemimpin menguraikan, mereka menyadari bahwa klaim-klaim itu saling bertentangan.
Ayatollah Khamenei menambahkan bahwa kekuasaan dunia menuduh Iran tidak mempromosikan demokrasi, sementara 85 persen dari pemilih yang berhak memilih pergi ke tempat pemungutan suara pemilihan presiden negara 12 Juni lalu.
Stabilitas Negara Islam tetap langgeng di tengah propaganda global tersebut, kata Pemimpin, pembuktikannya adalah orang-orang di dalam negeri yang bangkit melawan kehendak rakyat dalam pemilihan adalah boneka dari musuh atau bodoh.
Ayatollah Khamenei menyerukan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pawai pada tanggal 11 dan menunjukkan kesatuan untuk mengejutkan Amerika Serikat, Kerajaan Inggris dan Israel.[IsamTimes/R]