Tuesday 19 October 2010 20:05
Share/Save/Bookmark
Dari Israel-kah Pesawat Nir Awak Diimpor ke Indonesia ?
IslamTimes - EMPAT TAHUN LALU, Departemen Pertahanan telah memberikan jawaban yang nampaknya telah pasti: Israel. Jenisnya Searcher MK-II. Totalnya empat unit. Ongkos impor sekitar enam triliun rupiah.
Pesawat nir awak Israel.jpg
Pesawat nir awak Israel.jpg

Biaya sebesar itu, Departemen Pertahanan berencana membuka utang dari sebuah bank swasta di London, Inggris. Dan untuk mendatangkan barang itu sendiri ke Jakarta, mengingat tak adanya hubungan diplomati antarkedua negara, Departemen Pertahanan ‘mengakalinya’ dengan menunjuk sebuah perusahaan berbasis Filipina, Kital Philippines Corp, sebagai makelar barang. 

Di tahun 2006, Komisi I DPR yang membidani masalah pertahanan dan urusan luar negeri mencium gelagat tak beres. Indonesia memang belum pernah punya walau satu unit pesawat intai tanpa awak sejak Republik berdiri tapi Kital Philippines adalah sebuah perusahaan makanan yang memproduksi mie instan, jus konsentrat, potasium klorit. Sama sekali bukan entitas bisnis yang berpengalaman dalam produksi atau jadi makelar pesawat canggih. Lalu soal biaya. Menurut sejumlah anggota dewan kala itu, impor mesin perang itu sama sekali tak tercantum dalam rancangan anggaran negara. Dan terakhir, yang nampaknya buhul dari keberatan anggota dewan, adalah soal etika ‘berbisnis dengan Israel’. 

Sejak kemerdekaan, Indonesia menahan diri dari mengakui keberadaan Israel di wilayah bangsa Palestina yang terjajah. Hubungan diplomatik tak pernah dibuka meski Israel berkali-kali menunjukkan keinginannya. Ini sekaligus solidaritas yang semangatnya mengambil pesan “anti-penjajahan” dari Undang-Undang Dasar 1945. Dan pembelian alat perang dari Israel sama saja menghalalkan penjajahan Palestina yang masih berlangsung hingga detik itu. 

Hubungan Komisi I DPR dan Departemen Pertahanan sempat menegang kala itu.
Departemen Pertahanan berdalih mereka telah melakukan segala sesuatunya “sesuai prosedur”. Menteri Djuwono Sudarsono kala itu bilang pembelian Searcher MK-II Israel sebagai “pilihan realistis” di tengah minimnya kemampuan produksi dalam negeri. 

Hajat Depatemen Pertahanan mengimpor alat perang dari Israel ini lalu terkatung-katung hingga berakhirnya masa jabatan Komisi I DPR pada 2009. Dewan sepakat untuk tidak memberikan cap persetujuan penggunaan anggaran negara untuk pembelian empat Searcher MK-II. Persetujuan, kata sebagian mereka, hanya akan berujung pada pelanggaran keputusan negara tentang hubungan diplomatik. 

Bekas anggota Dewan, Djoko Susilo, di akhir masa jabatannya pada 2009, sempat bilang ke Kantor Berita Antara kalau Departemen Pertahanan bersikukuh menggolkan rencana impor Searcher MK-II dari Israel. Kala itu Djoko bilang kalau Departemen Pertahanan “dalam proses finalisasai utang sekitar 16 triliun rupiah dari Leumi Plc”, sebuah bank milik Israel di London, Inggris. 

“Kami tidak mengerti alasan Departemen Pertahanan untuk tetap bersikeras membeli pesawat dari negara itu. Kalau alasan kualitas, masak negara lain nggak bisa,” katanya Djoko yang lebih menginginkan Indonesia memproduksi sendiri alat tempur semacam itu.
Nyaris tak pernah ada lagi gaung ihwal pembelian Searcher MK II hingga pergantian tahun. Dan di bulan ini, media kembali meriuhkan rencana itu. Tapi dari dua berita yang keluar dari Markas Besar Tentara Indonesia, ada kesan kalau Departemen Pertahanan hendak mengetes kedalaman air terlebih dulu. 

Pada 15 Oktober, Kepala Staf Umum Tentara Indonesia, Marsekal Madya Edy Harjoko, mengungkapkan harapan tentara Indonesia bisa mengimpor tiga atau empat unit pesawat intai tanpa awak pada 2011 untuk “mendukung misi pemantauan perbatasan”. Edy, seperti dikutip Detik.com, bilang kalau tentara Indonesia belum mengambil kata putus soal berapa besar uang yang bakal dikeluarkan. Pun soal jenis pesawat intai dan negara produsennya. Yang pasti, katanya, barang impor itu dirancang untuk menjadi tulang punggung sebuah skuadron pesawat intai yang akan dibangun di Kalimatan. 

Sehari berselang, pada 16 Oktober, Kantor Berita Antara menurunkan berita yang seperti menghanyutkan pernyataan Marsekal Edy Harjoko sebelumnya. 

Berjudul “TNI Segera Miliki Pesawat Intai Tanpa Awak”, kantor berita resmi negara itu bilang kalau empat pesawat nir awak impor “akan tiba pada medio 2011” dan menjadi tulang punggung sebuah skuadron baru yang akan dibentuk di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak. Antara menyandarkan laporan sepenuhnya pada keterangan “sumber Antara di Mabes TNI Jakarta”. Di berita, sang “sumber” bilang rencana pembentukan skuadron pesawat intai itu telah mendapat dukungan penuh dari Komisi I DPR. 

Kantor Berita Antara tak memberi penjelasan kenapa mereka memilih menyamarkan identitas sang narasumber. Pun soal kenapa sang “sumber” memilih merahasiakan jenis pesawat yang diimpor, negara produsennya serta berapa uang rakyat yang disisihkan untuk pengadaan alat perang penting ini. 

Publik kini hanya bisa menebak-nebak akhir dari riuh kembalinya berita impor pesawat intai tanpa awak ini. Bisa jadi Israel yang akhirnya meraup keuntungan atau perusahaan dari negara lain, seperti BAE System, raksasa pesenjataan Inggris, yang juga dikabarkan pernah memasukkan penawaran serupa. 

Namun jika melihat perkembangan di Timur Tengah belakangan, selera Departemen Pertahanan membeli pesawat nir awak tipe MK dari Israel nampaknya telah tergerus.
Belum lama ini, pasukan Hizbullah di Lebanon mengagetkan publik dunia dengan mengumumkan kalau mereka telah menghancurkan superioritas Searcher MK Israel. Dengan teknologi murah meriah, katanya, mereka berhasil menyadap gambar-gambar yang dihasilkan pesawat intai itu saat mengudara secara ilegal di atas kota-kota besar Lebanon. *** (Islam Times/K-014)
kode topik : 40920
kirimkan topik ini kepada kawan
kirimkan topik ini kepada kawan
terima file dimaksud
terima file dimaksud
ruang terkait
ruang terkait
adres email :
pandangan anda :
tunjuk alamat email

2011-05-06 16:17:33
Sebagai pelajaran bahwa sudah waktunya Republik Indonesia mandiri dalam bidang pertahanan. jika kita ikuti perkembangan bidang Republik Islam Iran, tentunya bisa menjadi inspirasi, bagi para pemimpin dunia khususnya indonesia.