Islam Times 3 May 2019 202019000000Fri, 03 May 2019 20:55:12 -0400 20:55 https://www.islamtimes.org/id/article/792026/dengan-atau-tanpa-sanksi-iran-harus-ucapkan-selamat-tinggal-uang-minyak -------------------------------------------------- Title : Dengan atau Tanpa Sanksi, Iran Harus Ucapkan Selamat Tinggal Uang Minyak -------------------------------------------------- Islam Times - Mengucapkan selamat tinggal pada pendapatan minyak yang mudah didapat adalah pil pahit yang harus ditelan Iran. Untuk melakukannya, meski sangat sulit di bawah sanksi keras, pejabat negara perlu menemukan sumber pendapatan lain. Text : Kecuali Norwegia, hampir semua negara penghasil minyak menjadikan diri mereka lebih atau kurang bergantung pada uang minyak. Hanya negara penghasil minyak dengan populasi kecil, seperti Kuwait dan Qatar yang juga merupakan pengekspor gas nampak telah aman dari fluktuasi pasar minyak. Tapi, negara-negara dengan populasi besar, seperti Iran, cenderung mengalami volatilitas di pasar minyak, apalagi sanksi gila terhadap Iran. Tidak diragukan lagi, uang minyak telah mempengaruhi politik, ekonomi, sistem manajemen, budaya, kebiasaan pengeluaran, konsumsi dan banyak masalah lain di negara-negara kaya minyak. Sebagai contoh, Iran sekarang memiliki salah satu harga energi termurah di dunia. Hal ini menyebabkan penggunaan energi yang berlebihan, terutama penggunaan mobil pribadi yang berlebihan di negara ini. Mari kita melihat contoh untuk menjelaskan bahwa uang minyak bukan jalan satu-satunya menuju kemajuan dan ekonomi yang hidup. Pada 1970-an, Iran lebih maju daripada Korea Selatan, tetapi sekarang Korea Selatan jauh lebih sukses daripada Iran dalam hal ekonomi dan teknologi. Korea Selatan tidak memiliki sumber minyak, tetapi negara ini justru memberikan peluang bagi ekonomi yang kompetitif dan memanfaatkan bakatnya. Memang benar bahwa perang yang dipaksakan pada Iran pada 1980-an menghambat kemajuan Iran dan menimbulkan kerugian sekitar 1 triliun dolar di negara itu, namun para pejabat gagal mengambil langkah serius untuk menciptakan atmosfer ekonomi kompetitif dengan fokus pada penelitian dan teknologi. Uang minyak menjadi penyebab utama pendekatan ekonomi semacam itu. Menurut rencana pembangunan lima tahun berturut-turut yang berakhir pada 2021, Iran harus mengurangi ketergantungan pada minyak sampai batas tertentu, namun, administrasi berturut-turut, dengan tingkat yang berbeda-beda, tidak sepenuhnya bertindak berdasarkan rencana pengembangan itu. Iran sekarang dikenai sanksi ilegal terberat yang pernah dilakukan oleh administrasi Trump. Baru pada 22 April, Amerika Serikat mengakhiri sanksi keringanan terhadap ekspor Iran dan mengumumkan akan membatalkan ekspor minyak Iran pada 1 Mei. Apakah pemerintahan Trump berhasil atau tidak menerapkan ancaman minyaknya adalah masalah yang harus kita tunggu dan lihat, tetapi perlu kita lihat bahwa bertolak dari ekspor minyak adalah sangat menyakitkan. Sorena Sattari, seorang lulusan Universitas Teknologi Sharif yang menjabat sebagai wakil presiden untuk urusan ilmiah, mengatakan pada sebuah pertemuan di Hamedan pada Selasa, 30/04/19, mengatakan, sanksi telah memberikan peluang bagi perusahaan berbasis pengetahuan untuk mengintensifkan upaya mereka. Sattari juga mengatakan rencana telah disusun untuk memproduksi peralatan dan mesin yang dikenakan sanksi. Apakah kita suka atau tidak, bahan bakar fosil, terutama minyak mentah, kehilangan arti pentingnya karena sumber daya energi terbarukan secara bertahap menjadi pusat perhatian dunia. Mengucapkan selamat tinggal pada pendapatan minyak yang mudah didapat adalah pil pahit yang harus ditelan Iran. Untuk melakukan itu, meski sangat sulit di bawah sanksi keras, pejabat negara perlu menemukan sumber pendapatan lain. Mereka dapat berinvestasi di bidang pariwisata karena Iran adalah salah satu negara teratas yang menjadi tuan rumah bagi situs-situs wisata, membangun lingkungan untuk ekonomi kompetitif yang transparan, menutup celah korupsi, melibatkan orang-orang yang kompeten dalam jabatan manajerial, memperkenalkan sistem pajak yang sehat dan dapat diterapkan, mengakhiri subsidi yang tidak perlu, dan yang lebih penting adalah memprioritaskan penelitian dan pengembangan (R&D). [IT]