0
Tuesday 12 May 2015 - 12:29

Salman bin Abdulaziz Merobek Pinggang dengan Pedang Sendiri

Story Code : 460120
Salman dan Bush Junior
Salman dan Bush Junior
Sebagian para penguasa Arab mengambek. Kegagalan berulang di berbagai bidang menyebabkan mereka membuat keputusan yang justru berpotensi mempercepat riwayat hidup mereka yang berdarah-darah.

Enam penguasa anggota Persian Gulf Cooperation Council (P-GCC) berencana akan bertemu dengan Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih besok pagi, Rabu 13 Mei 2015, kemudian dilanjutkan dengan sebuah acara lovefest di Camp David hari berikutnya.

Meski iming-iming kontrak dengan nilai puluhan miliar dolar akan diumumkan, tetapi tidak ada garansi para penguasa Timur Tengah itu akan datang kesana.

Salah satunya adalah penguasa Bani Saud al-Imam Salman bin Abdul Aziz, orang pertama yang memutuskan untuk tidak hadir. Untuk itu, al-Imam salman mengirimkan Putra Mahkota sekaligus Menteri Dalam Negeri Mohammed bin Nayef, serta Wakil Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Mohammed bin Salman sebagai utusan resmi. Nama terakhir adalah anak dari maha raja Bani Saud, demikian menurut laporan Saudi Press Agency Ahad, 10 Mei 2015.

Menurut New York Times (10 Mei), keputusan Salman itu dituangkan dalam narasi berbeda, bahwa "Tidak ada ekspresi kekecewaan dari Saudi". Benarkah demikian?!

New York Times lupa, selang dua hari sebelumnya, Eric Schultz, juru bicara Gedung Putih dalam sebuah pernyataan mengatakan, Raja Salman akan berkunjung ke Amerika Serikat untuk melanjutkan berbagai konsultasi terkait isu-isu regional dan bilateral termasuk keamanan.

Konsultasi itu termasuk antisipasi kesepakatan program nuklir damai Iran, kegagalan aliansi AS-Zionis-Arab di Suriah, dan terbaru, sebuah rawa Yaman yang dibuat Bani Saud yang kelak akan menenggelamkan keangkuhan keluarga Badui Najd.

Bagi Amerika Serikat, kesepakatan nuklir Iran akan digunakan sebagai kesepakatan emas untuk menjual senjata sebanyak-banyaknya kepada Bani Saud yang tentara-tentaranya benar-benar tidak tahu cara menggunakan senjata secara efektif sebagaimana terbukti di Yaman selama enam minggu sampai sekarang.

Sejak rawa di Yaman itu dibuat, penguasa tidak sah Bani Saud itu sedang mencari payung keamanan untuk melindungi tahta dan kasta; namun Amerika tidak siap memberikan jaminan keamanan ini, maka Salman membatalkan kunjungannya ke AS pada menit-menit terakhir.

Selain Raja Salman, raja Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Oman juga memilih jalan pintas. Menggagalkan pertemuan dengan Obama.

Meski Oman belum mendukung kebijakan agresif Saudi di Yaman, tetapi Emirat dan Bahrain hampir pasti satu hati dengan Bani Saud.

Hanya penguasa Qatar dan Kuwait sampai sejauh ini belum membatalkan dan akan hadir di Washington DC.

Dengan Qatar, Bani Saud memiliki sengketa perbatasan yang beberapa kali memperburuk hubungan mesra dua maha raja Timur Tengah. Bahkan keberadaan raja Qatar digadang-gadang akan menggusur dominasi tunggal Saudi Arabia di Timur Tengah dan internasional.

Lubang perbedaan kebijakan kedua Raja juga terus menganga terutama bagaimana cara menangani Ikhwan al-Muslimin (IM) di Mesir.

Bani Saud sejak awal menyatakan bahwa gerakan Ikhwanul Muslim (IM) Mesir bersama-sama dengan Hamas di Palestina adalah sebagai organisasi teroris dan wajib dibasmi. Sementara Qatar sebaliknya, memberikan perlindungan dan memberi nafas kehidupan kepada pemimpin Ikhwanul Muslimin dan Hamas.

Selain itu, penguasa Badui Najd menjadikan Qatar sebagai rival baru dari negara-negara Arab berigal selain Iran, yang kini terus membayangi kehebatan dan kedigdayaan Bani Saud di panggung internasional dan regional.

Dari sisi keamanan, Salman juga sangat fasih memahami, jika tanpa perlindungan AS dan Barat, kekuasaannya melemah dan yang membuka peluang lawan-lawan untuk menggesernya dari tahta.

Kecemasan-kecemasan yang dirasa baik Bani Saud, Uni Emirat Arab dan Bahrain sangat dimengerti, bahkan sekalipun jika keputusan itu justru hanya akan memperburuk keadaan dan menuntaskan riwayat berdarah-darah mereka. Mereka sedang merobek pinggang dengan pedangnya sendiri.

Perkembangan regional terakhir ini tentu dipahami oleh Bani Saud tidak membawa dampak kenyamanan dan keamanan, setiap waktu dan detik, keputusan panik dan kesalahan hanya akan mempercepat kejatuhannya. Dan mungkin akan segera terwujud!. [Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times/Onh/Ass]


Artikel Terkait
Comment