0
Sunday 13 May 2018 - 17:22

Tumbangnya Penguasa Malaysia Dukungan Bani Saud

Story Code : 724342
Mahathir Vs Najib
Mahathir Vs Najib
Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times - Seperti seorang paman gila yang turun dari loteng memegang tongkat untuk memisah anak-anak yang sedang gaduh, Mahathir Mohamad sekali lagi menguasai perpolitikan Malaysia. Pada usia yang sudah senja, 92 tahun, koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpinnya, mempecundangi -,untuk pertama kali dalam 60 tahun-, koalisi Barisan Nasional (BN) yang selalu berkuasa. Pakatan Harapan (PH) meraih 113 kursi dari total 222 kursi parlemen sehingga melewati ambang batas minimum 112 kursi untuk dapat membentuk pemerintahan baru.

Pemilihan 9 Mei di Malaysia menghasilkan banyak hal. Pertama, pada usia 92 tahun, Mahathir Mohamad adalah politisi tertua di dunia yang terpilih sekaligus memerintah sebuah negara. Meskipun kesehatannya terbilang masih prima, namun usia senja jelas tidak menguntungkannya. Kedua, tumbangnya koalisi Barisan Nasional (BN) yang selalu digdaya dalam setiap pemilihan sejak negara itu memperoleh kemerdekaan dari kolonialisme Inggris pada tahun 1957.

Komponen utama koalisi BN adalah Organisasi Nasional Melayu Bersatu (Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu, atau United Malays National Organisation, UMNO). Perdana menteri terguling, Najib Razak sendiri adalah anak didik Mahathir yang menyerahkan kepemimpinan koalisi sejak Mahathir mengundurkan diri pada 2003.

Seperti kisah Sito Gendeng yang menggembleng Wiro Sableng untuk pemimpin masa depan, sayangnya Pendekar Kapak 212 itu ternyata gagal mensejahterakan rakyat, dan terlibat dalam skandal mega korupsi dan rasisme di Malaysia.

Menjelang pemilihan, sebagian besar pengamat memperkirakan margin kemenangan tipis untuk Barisan Nasional (BN) yang berkuasa, tetapi tampaknya kebencian rakyat terhadap Pendekar Kapak 212, tumbuh begitu kuat sehingga menjungkalkannya dari puncak kekuasaan.

"Najib memerintah secara kleptokratik", kata Mahathir dalam konferensi pers, seperti dilansir Channel News Asia, Kamis, 10/5/2018.

Kleptokratik merupakan pemerintahan dengan pemimpin-pemimpin korup yang menggunakan kekuasaan mereka untuk mengeksploitasi rakyat dan sumber daya alam di wilayah mereka, demi memperkaya diri dan mempertahankan kekuasaan politik.

Skandal korupsi multi-miliar dolar,-1Malaysia Development Berhad (1MDB),- dan penyelewengan uang negara miliaran dolar Amerika diduga penyebab utama runtuhnya kekuasaan Najib. Lengan investasi negara yang dibentuk dan diawasi oleh Najib saat ini menjadi pusat penyelidikan penggelapan internasional yang sedang berlangsung.

"Jika undang-undang menyatakan Najib telah melakukan pelanggaran, dia akan menghadapi konsekuensinya," tegas Mahathir.

Perdana menteri yang digulingkan itu juga melakukan penggelapan sekitar $700 juta dari rezim Saudi Wahabi. Gelontoran jutaan dolar dari Saudi Wahabi tersebut diyakini sebagai pembayaran kepada Najib untuk menyatakan Syiah sebagai "kafir". Sejak saat itu Najib via Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan Kementerian Dalam Negeri (KDN) mengeluarkan Undang-Undang yang menyatakan bahwa semua ajaran Syiah di Malaysia adalah sesat.

Baca: http://www.astroawani.com/berita-malaysia/semua-ajaran-syiah-di-malaysia-adalah-menyeleweng-jakim-26941
Baca: http://www.sinarharian.com.my/nasional/kdn-isytihar-syiah-menyalahi-undang-undang-1.186347

Faktor lain dalam politik Malaysia adalah Anwar Ibrahim yang saat ini berada di penjara yang digadang-gadang sebagai calon masa depan untuk mengambil alih kepemimpinan dari Mahathir Mohammad. Anwar Ibrahim yang kini berusia 70 tahun adalah mantan rival politik Mahathir dan pernah menjabat Wakil PM Malaysia tahun 1993-1998 di bawah kepempimpinan Mahathir.
Anwar yang di penjara telah menjalani masa hukuman sejak tahun 2015. Setelah bebas nanti, undang-undang Malaysia melarang Anwar Ibrahim untuk mencalonkan diri dalam pemilu selama lima tahun ke depan. Untuk bisa kembali ke panggung politik, Anwar yang selama ini menjadi tokoh oposisi ternama Malaysia, membutuhkan pengampunan kerajaan atau royal pardon dari Yang di-Pertuan Agong.

Ketika Najib terperosok ke dalam mega skandal korupsi termasuk rasisme, politik Malaysia mengambil putaran lain. Mahathir Mohamad mengumumkan untuk mencalonkan diri untuk jabatan puncak lagi dan akhirnya menang, hal yang oleh pengamat dianggap sebagai torehkan sejarah.

Jelas, baik Mahathir maupun Anwar tidak akan bisa mengalahkan Barisan Nasional sendirian disaat Najib berada di puncak kekuasaan. Anwar akhirnya mau berkongsi dengan Mahathir dengan syarat akan mendapatkan pengampunan kerajaan jika pemilu berhasil dimenangkan. Mahathir tidak hanya setuju, ia juga berjanji akan menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Anwar dalam waktu dua tahun.

Setelah kemenangan menakjubkan itu, Mahathir akhirnya dilantik sebagai perdana menteri pada 10 Mei. Dia menepati janjinya dan mengatakan bahwa raja telah mengindikasikan pengampunan untuk Anwar Ibrahim.

Wan Azizah, istri Anwar, mengatakan ini bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Meskipun ia dapat membebaskannya, namun Anwar masih harus melalui proses terpilih untuk menjadi anggota parlemen sebelum menjadi perdana menteri.

Akankah ada putaran lain dalam kisah panjang tentang perjalanan politik Malaysia mengingat Anwar Ibrahim juga didukung Saudi Wahabi? Hanya waktu yang akan mengatakan, tetapi untuk saat ini orang-orang Malaysia dapat menghela nafas lega ketika melihat berakhirnya pemerintahan Najib Razak dukungan Bani Saud yang penuh dengan korupsi, rasis, dan kebohongan. [Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times]

 
Artikel Terkait
Comment