0
Monday 6 May 2019 - 07:21

Senjata Sanksi AS Tak Bermakna Bagi Republik Islam Iran

Story Code : 792424
Senjata Sanksi AS Tak Bermakna Bagi Republik Islam Iran
Menuduh Iran tengah berusaha memproduksi senjata pemusnah massal adalah puncak kemunafikan. Terlepas apakah Republik Islam Iran benar-benar telah menguasai siklus bahan bakar nuklir, namun, negara Islam ini dengan tegas dan lugas menganggap bahwa membuat senjata pemusnah massal semacam itu sebagai barang "haram" dan terlarang secara agama.

Alasan dibalik serangan yang menargetkan Jepang dalam Perang Dunia-2, karena Jepang tidak memiliki gudang senjata atom untuk membalas. Dan alasan dibalik mengapa Washington tidak berani menyerang Pyongyang hari ini, karena faktor yang sama pula. Korea Utara memiliki gudang teknologi senjata nuklir yang cukup untuk membawa kematian dan kehancuran di kota-kota AS, jika benar-benar diprovokasi.

Suatu hari, gangster Mike Pompeo, seorang karakter pengecut yang mendalami kebohongan dan penipuan, bertindak sebagai Sekretaris Negara untuk Donald Trump, mengancam menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang bekerja sama secara legal dengan Iran yang berdasarkan peraturan NPT untuk memperluas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr untuk produksi listrik damai.

Mike Pompeo menuduh, langkah Amerika terbaru itu bertujuan untuk mengekang kemampuan Iran untuk tidak memperkaya uranium, dan mengurangi produksi senjata nuklir.

Apakah Pompeo sebegitu bodohnya? Apakah dia belum mempelajari sejarah Pembangkit Listrik Bushehr, yang pernah disabot oleh Jerman dan Prancis, akhirnya mampu diselesaikan oleh para ahli Iran (kerja sama teknis dengan Rusia), atau dia sedang berpikir bahwa ancamannya itu akan menakuti perusahaan asing yang berkoordinasi dengan Republik Islam Iran di bawah pengawasan IAEA selama 24 jam. Entahlah . . .

Seperti para leluhurnya di Italia sana, klan Pompeius pernah bermimpi menaklukkan Kekaisaran Parthia yang kemudian berubah menjadi mimpi buruk di Pertempuran Carrhae pada tahun 53 SM, ketika jenderal Iran, Surena berhasil menumbangkan tentara Romawi.

Kini Pompeo nampaknya terinspirasi mimpi leluhurnya untuk membuat sebuah kejutan. Apakah Pompeo ingin memprovokasi para jenderal Republik Islam Iran yang penuh pengalaman dan kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Asia Barat, terutama di Suriah dan Irak?

Sanksi atau terorisme ekonomi ,- apa pun sebutan Anda ,- adalah taktik pengecut yang digunakan oleh rezim impoten, yang semestinya menikmati tingkat superioritas militer dan ekonomi, tetapi merasa ketakutan akan kekuatan politik, industri, komersial, dan budaya yang berkembang dari sebuah negara yang bertekad kuat, Republik Islam Iran.

Bagi AS, sanksi digunakan sebagai senjata psikologis untuk menginjeksi rasa sakit jangka pendek. Dalam jangka panjang, sanksi sama sekali tidak memiliki tujuan praktis untuk menakut-nakuti bangsa yang mempunyai talenta murni untuk perlawanan dan pembangunan.

Bagi Republik Islam Iran, sanksi adalah berkah tersembunyi. Sanksi bagi negara strategis dan diberkati dengan berbagai sumber daya alam, tenaga kerja terampil, pelayan penghubung penting antara berbagai wilayah geografis, dan tekad besi untuk mengalahkan terorisme dan rezim tirani, sanksi AS hanyalah latihan belaka.

Washington tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghadapi popularitas Tehran yang semakin meningkat di kawasan, atau kekuatan untuk menghentikan teknologi pertahanan rudal dan kedirgantaraan yang berkembang pesat, apalagi menghentikan impor minyak Iran menjadi "nol".

Tujuan utama Trump hanyalah memperpanjang eksistensi entitas Zionis ilegal melalui taktik intimidasi dengan harapan sia-sia untuk menjebak Iran agar tunduk dan sujud.

Jika Israel yang rasis dengan tangan penguasanya penuh darah anak-anak, Benjamin Netanyahu, tidak mampu mengatasi kekuatan rudal "kecil" Palestina yang terkepung di Gaza, bagaimana Israel dapat menghadapi proyektil yang dipandu presisi kuat dari Hizbullah, dan Israel cukup bodoh jika melakukannya.

Janji Donald Trump mengenai dukungan kepada Israel untuk memusnahkan gerakan anti-teroris seperti Hizbullah Lebanon, adalah omong kosong belaka.

AS yang mencintai sanksi sebagai senjata, harus mengetahui, jika satu langkah membuat kesalahan di Asia Barat, maka itu akan membuka gerbang neraka bagi para teroris CENTCOM yang akan segera dimusnahkan dari bagian peta dunia ini. [IT]


 
Artikel Terkait
Comment