0
Tuesday 20 August 2019 - 10:28
AS, Inggris - Iran:

AS Mengancam Mereka yang Membantu Pembebasan Tanker Iran

Story Code : 811537
Adrian Darya 1 oil tanker, formerly known as Grace 1.jpg
Adrian Darya 1 oil tanker, formerly known as Grace 1.jpg
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri dikutip oleh Reuters mengatakan pada hari Senin (19/8) bahwa membantu kapal yang dinamai Adrian Darya 1 memiliki "konsekuensi pidana potensial."

Pada 4 Juli, pasukan angkatan laut Inggris secara tidak sah merebut kapal itu, yang kemudian dikenal sebagai Grace 1, dan muatannya 2,1 juta barel minyak di Selat Gibraltar dengan dalih bahwa supertanker itu diduga membawa minyak mentah ke Suriah karena melanggar Sanksi unilateral Uni Eropa terhadap negara Arab itu.

Tehran, bagaimanapun, menolak klaim London tentang tujuan kapal tanker itu dan mengecam penyitaan itu sebagai "pembajakan."

Pada hari Kamis (15/8), pemerintah Gibraltar mengumumkan akan melepaskan kapal supertanker meskipun ada tekanan dari AS untuk terus menahan kapal.

Segera setelah pengumuman, Departemen Kehakiman AS meluncurkan surat perintah untuk penyitaan kapal. Gibraltar, bagaimanapun, menolak permintaan itu.

Pejabat AS, yang menyampaikan ancaman terhadap pemberian bantuan kepada supertanker, mengatakan Washington telah menyampaikan "posisinya yang kuat" kepada pemerintah di Yunani serta semua pelabuhan Mediterania mengenai kemungkinan fasilitasi perjalanan Adrian Darya 1.

Pejabat tersebut menuduh bahwa Adrian Darya 1 berada dalam pelayanan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), pasukan pertahanan elit Iran, yang secara sepihak Washington telah memasukkan ke daftar hitam sebagai "organisasi teroris."

Pejabat itu menambahkan bahwa segala upaya untuk membantu kapal tanker itu dapat dianggap sebagai memberikan dukungan material kepada "organisasi teroris asing yang ditunjuk AS," tambah Reuters.

Menolak permintaan Departemen Kehakiman AS pada hari Minggu lalu, pemerintah Gibraltar mengatakan bahwa " sanksi rezim Uni Eropa terhadap Iran secara fundamental berbeda dengan Amerika Serikat."[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment