1
Wednesday 16 September 2020 - 11:22

Piagam Watugong; Jalan Menuju Kerukunan Umat Beragama dan Kepercayaan

Story Code : 886528
Piagam Watugong; Jalan Menuju Kerukunan Umat Beragama dan Kepercayaan
Acara yang dihadiri sekitar 35 perwakilan berbagai ormas keagamaan dan penghayat itu dimulai dari jam 09:20 pagi sampai jam 13:35 WIB.

Membuka rapat, Ketua FKUB Jateng, KH Taslim Syahlan menegaskan bahwa tujuan kegiatan yang menghadirkan perwakilan ormas-ormas keagamaan termasuk Islam, Budha, Penghayat, Katolik, Hindu Konghucu dan Kristen ini adalah merajut kembali kerukunan sesama pemeluk agama khususnya di Jawa Tengah, agar semakin erat dan menyatu dalam wadah kerukunan beragama.

"Sasarannya, umat beragama agar lebih memahami arti kerukunan umat beragama. Sehingga isu-isu keagamaan yang terjadi di berbagai daerah bisa diredam dan tidak menyebar," katanya.

"Karena itu, harapannya ada sebuah kesepakatan semacam dokumen atau piagam Watugong," tegasnya.

Dalam sambutannya, Muhlisin Turkan sebagai Humas DPW ABI Jateng menyampaikan ide dan gagasan soal kerukunan umat beragama dengan merujuk surat Imam Ali as kepada Malik al-Astar (Gubernur Mesir) untuk penyelesaian persoalan-persoalan kemanusiaan, keadilan, toleransi dan kerukunan.

“Kita bisa menganggap surat Imam Ali ini sebagai “panduan untuk penguasa”, manajemen berkuasa. Di sana kita jumpai filosofi Imam Ali tentang kekuasaan, etika memerintah, batas-batas seorang penguasa, cara mengelola kerukunan beragama, cara menghadapi kaum penyesat, cara mengurus pasukan dan cara bagaimana memperlakukan rakyat, dsb.” katanya.

Humas menyebut beberapa poin penting pesan surat tersebut. Di antaranya, bahwa dalam sejarah panjang kehidupan beragamanya, Mesir pernah berada di bawah kekuasaan gereja dan mengalami tirani serta penindasan, baik secara politik maupun keagamaan. Mazhab kekristenan yang dianut oleh orang-orang yang tinggal di Mesir berseberangan dengan mazhab Kristen di pusat, dan karena itu hubungan antara agama Kristen di Bizantium dan kekristenan Mesir yang berpusat di Alexandria penuh dengan ketegangan, karena paham kekristenan yang dominan di Mesir dianggap heterodox, sesat dan menyimpang. Ini hampir mirip dengan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia kini.

“Imam Ali as mengingatkan kepada kita bahwa jangan mengulangi ketidakadilan itu di negeri ini. Penguasa harus mempraktekkan jenis kekuasaan yang lain dengan keadilan dan kemanusiaan,” lanjutnya. “Imam Ali tak menghendaki negara kita menjadi monster Leviathan yang menakutkan.”

“Mengkaji surat Imam Ali as itu sebagai rujukan utama untuk menerapkan kerukunan umat beragama sangat penting, terutama bagi FKUB sebagai wajah asli pemerintah,” tegasnya.

Sementara Dadan Herdian, Sekretaris II DPW ABI Jateng menegaskan komitmen organisasi untuk lebih aktif dan berkontribusi untuk memperkuat kerukunan umat beragama.

Menukil pernyataan Imam Ali, Dadan mengatakan, “Imam Ali as membagai persaudaraan ke dalam dua kelompok besar, yaitu mereka yang menjadi saudaramu karena kesamaan agama, dan mereka menjadi saudaramu karena sesama manusia.”

Terkait fitnah terbaru penusukan Syech Ali Jaber dan rumor yang dikembangkan bahwa pelakunya adalah pengikut Syiah atau PKI adalah hal yang tidak masuk akal, lanjutnya. Sama halnya tidak masuk akal ketika di Solo terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah ketika menggelar acara midodareni.

Menurut Dadan, mereka yang berkoar-koar ‘sesat' itu adalah minoritas yang memiliki tujuan tertentu. Mayoritas adalah kita, dalam persaudaraan yang berkumpul di sini, dalam kebersamaan ini.

Acara itu merumuskan lima poin penting kesepakatan untuk pertama kalinya, menandai bentuk baru gerakan kerukunan umat beragama. Kesepakatan yang bertujuan mencegah gerakan radikalisme dan anti intoleransi itu kemudian dijuluki sebagai "Piagam Watugong", merujuk pada tempat terselenggaranya acara di Vihara Budhagaya Watugong Banyumanik Semarang.

Lima poin kesepakatan Piagam Watugong yang masih berupa draft itu sebagai berikut:
1. Penguatan keberagamaan dan berkeyakinan
2. Penguatan toleransi dan kemanusiaan
3. Penguatan saling berbagi dan kerjasama
4. Penguatan kebhinekaan
5. Penguatan kebangsaan.

Detail dan perincian lima poin di atas menurut Ketua FKUB, KH Taslim Syahlan, akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya sekaligus penandatanganan Piagam Watugong.[IT/MT]

 
Artikel Terkait
Comment