0
Wednesday 30 September 2020 - 20:48

Industri Perang Israel Merangkul Emirat dengan Tangan Terbuka

Story Code : 889401
Kawasan al-Tuffah, Palestina yang hancur dalam serangan Israel tahun 2014 (Electronic Intifada).
Kawasan al-Tuffah, Palestina yang hancur dalam serangan Israel tahun 2014 (Electronic Intifada).
Electronic Intifada kemarin melaporkan, universitas yang baru didirikan dan dinamai sesuai nama putra mahkota Uni Emirat Arab itu mengadakan upacara penandatanganan virtual untuk perjanjian kerja sama dengan Institut Sains Weizmann Israel awal bulan ini. Kolaborasi antara kedua institusi akan mencakup pertukaran siswa dan staf, konferensi, penelitian, dan pembentukan lembaga virtual bersama untuk kecerdasan buatan.

Alon Chen, Presiden Weizmann Institute, dan Sultan Ahmed Al Jaber, Menteri Teknologi Emirat dan Ketua Dewan Pengawas Universitas, ikut serta dalam upacara tersebut.

Kampanye Palestina untuk Boikot Akademik dan Budaya Israel (PACBI) segera mengutuk persatuan "normalisasi" ini. Menurut PACBI, institusi akademis Israel berperan penting dalam perencanaan, penerapan, pembenaran dan penguatan pendudukan militer Israel yang sedang berlangsung.

Sejarah keterlibatan Institut Weizmann sangat serius. Sebelumnya dikenal sebagai Sieff Institute, lembaga ini "secara resmi bergabung" dengan kampanye pembersihan etnis yang dipimpin oleh David Ben-Gurion pada Februari 1948, bersama dengan Universitas Ibrani Yerusalem. Institusi ini juga menyediakan penelitian militer dan "bantuan dengan layanan keamanan" untuk upaya perang Zionis.
Institut Weizmann kemudian diubah namanya sesuai nama presiden pertama Israel Chaim Weizmann, seorang tokoh terkemuka dalam gerakan Zionis.

Salah satu peneliti pertama Weizmann Institute, Israel Dostrovsky, adalah pemimpin sayap penelitian militer Haganah (milisi Zionis pra-negara yang melakukan banyak pembersihan etnis).

Institut Weizmann tidak diragukan lagi telah terlibat erat dalam program senjata nuklir rahasia Israel, serta penelitian senjata kimia dan biologi. Institut juga masih mempertahankan hubungan dekat dengan militer Israel dan produsen senjata terbesarnya termasuk Israel Aerospace Industries (IAI) dan Elbit Systems.

Elbit dan IAI sendiri adalah pemasok utama senjata yang digunakan dalam serangan Israel terhadap Palestina. Elbit memasok amunisi fosfor putih dan drone yang digunakan selama serangan Israel di Palestina dan di Libanon. Juga memproduksi munisi cluster yang dilarang secara internasional untuk tentara Israel.

Elbit memasarkan senjatanya dengan julukan "terbukti dalam pertempuran", dengan serangan berturut-turut tentara Israel terhadap warga sipil di Gaza sebagai ruang pamernya. Selama serangan 2014 mereka di Gaza, pasukan Israel membunuh lebih dari 2.200 warga Palestina, termasuk 550 anak: rata-rata 11 anak per hari.

UEA sebenarnya telah bekerja sama dengan industri perang dunia maya Israel jauh hari sebelum mereka menandatangani perjanjian untuk sepenuhnya menormalkan hubungan dengan Israel. Dalam wawancara dengan terbitan bisnis Israel The Marker, presiden Universitas Haifa mengungkap hubungan bersejarah antara universitas Emirat dan Israel. Ron Robin yang membantu rekrutmen  kampus Universitas New York  mengatakan, “Saya datang ke Abu Dhabi untuk pertama kalinya pada 2007...Saya terbang antara Abu Dhabi dan Tel Aviv selama delapan tahun. Itu [Abu Dhabi] adalah rumah saya selama delapan tahun itu "

Robin menjelaskan bahwa dia tidak pernah menyembunyikan identitas Israelnya selama berada di sana. "Orang-orang yang saya temui mengerti bahwa saya adalah orang Israel," tambahnya.

Robin mengatakan dia mengharapkan Israel untuk membangun hubungan dengan tiga institusi akademik Emirat khususnya: NYU Abu Dhabi, Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence, dan United Arab Emirates University.[IT/AR]c
Artikel Terkait
Comment