0
Wednesday 24 February 2021 - 16:56

Ex Ketua Shin Bet: Generasi Depan Tak Akan Melihat Israel

Story Code : 918116
Yuval Diskin (calcalistech.com)
Yuval Diskin (calcalistech.com)
"Saya tidak berbicara tentang ancaman nuklir Iran, rudal Hizbullah Libanon, atau Palestina, tapi tentang perubahan populasi, perubahan sosial dan ekonomi [rezim Zionis] yang mengubah sifat pemerintah dan setelah satu generasi, menimbulkan ancaman untuk keberadaan mereka," paparnya.

Ini adalah ringkasan peringatan yang diberikan oleh mantan bos Shin Bet kepada para politisi dan masyarakat, terutama para imigran Ibrani dari Palestina yang diduduki.

Yuval Diskin, 64 tahun, merupakan salah satu direktur intelijen paling berpengalaman di Israel dan satu-satunya tokoh keamanan senior yang pernah menjabat sebagai bos Shin Bet bersama ketiga perdana menteri terbaru Israel: Ariel Sharon, Ehud Olmert dan Benjamin Netanyahu. Sekarang dia percaya bahwa rezim yang mengklaim mewakili orang Yahudi tidak akan bertahan sampai generasi berikutnya.

Dari tahun 2005 hingga 2011, Diskin menjabat sebagai bos organisasi keamanan internal rezim Zionis, yang dikenal sebagai Shin Bet. Sebagai seorang pejabat senior Israel, dia menyaksikan kerentanan yang dalam dan kelemahan struktural rezim terhadap serangan balik Hizbullah di Libanon dalam 33 hari perang (musim panas 2006), Hamas dan berbagai kelompok jihad Palestina  dalam perang 22 hari (musim dingin 2009).

Dia juga salah satu pengkritik paling serius terhadap perdana menteri korup dan goyah saat ini, Netanyahu. Tahun lalu, pada hari-hari menjelang pemilihan bulan Maret, dia dan lima mantan kepala intelijen rezim lainnya memposting video yang memperingatkan bahwa Netanyahu akan tetap berkuasa. Dia juga memperingatkan bahwa Netanyahu adalah ancaman paling serius bagi keberadaan Israel.

Enam tahun lalu, Pemimpin Tertinggi Revolusi, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dalam sebuah pernyataan, memprediksikan hilangnya Israel dalam 25 tahun ke depan. Teks artikel Diskin berjudul  "Beginilah Kita akan Dibiarkan Tanpa Negara," Diskin menulis,

"Keretakan kita sebagai bangsa semakin dalam. Konflik antara kanan dan kiri telah melampaui tantangan antara orang Yahudi dan Arab, ketidakpercayaan terhadap struktur pemerintah pusat semakin meningka, korupsi semakin merajalela di struktur lokal dan nasional, solidaritas sosial merosot, kepemimpinan tak lagi punya panutan dan nilai-nilai kita karena pikiran sakit beberapa kalangan ekstrin sedang berubah. Baru-baru ini, jelas bahwa kekuatan besar Timur Tengah ini bahkan tidak dapat menjamin kedaulatan internalnya atas Naqsh, Galilea, Yerusalem, dan Bani Barak.

Sekarang, mengingat pendekatan ini, mari kita pertimbangkan data dari Pusat Statistik, yang baru-baru ini menemukan bahwa dalam 40 tahun, setengah dari populasi [Palestina yang diduduki] akan terdiri dari Haridian (Ortodoks atau Yahudi ekstremis) dan Arab; dua masyarakat yang sangat diabaikan oleh pemerintah selama bertahun-tahun dan memiliki sedikit keterlibatan dalam ekonomi dan sangat miskin. Pada saat yang sama, kedua masyarakat yang tidak terlibat sama sekali dengan pertahanan, dinas militer dan dinas sipil ini sangat anti-Zionis dan, tentu saja, memiliki kekuatan spiritual yang tinggi. Lebih penting lagi, di mata mereka, Israel telah kehilangan kedaulatan dan integritas teritorialnya, dan dalam kekosongan kekuasaan pusat, para ekstremis berkuasa dalam masyarakat yang subversif.

Seperti yang kita lihat dalam krisis Corona, para pembangkang Yahudi yang berdemonstrasi di komunitas Ortodoks dan komunitas Arab yang sangat tertutup (yang penuh dengan organisasi kriminal dan bersenjata) telah mempersulit warga lewat kekerasan, pemerasan, dan pemerasan di jalan-jalan raya. Dari sudut pandang Haridian, Israel tengah bergerak menuju kerugian dan kehancuran. Konsekuensi kehancuran menanti Israel jika pemerintah mendatang tidak segera mengambil langkah penting untuk mengubah perilaku Haridim (masyarakat Haridian).

Selain Haridim, ada kelas lain, termasuk sekularis klasik, ekstremis Yahudi, mazrak dan Ashkenazis, bahkan orang kaya, orang miskin dan lain-lain yang tidak tahan dengan kesulitan ekonomi. Buntut dari krisis Corona menimbulkan pertanyaan eksistensial dan strategis: apakah Israel memiliki kohesi sosial, fleksibilitas ekonomi, dan kekuatan militer dan keamanan untuk memastikan keberadaannya bagi generasi mendatang? Yang saya maksud adalah tren demografis, sosial dan ekonomi yang secara fundamental mengubah esensi Israel dan membahayakan keberadaannya selama satu generasi (seperempat abad berikutnya).

Anda tidak perlu menjadi ahli untuk memahami bahwa status quo tidak akan stabil di bidang ekonomi, sosial, dan keamanan selama 30 tahun ke depan, dan paling berbahaya adalah banyak orang lebih memilih untuk tinggal di bagian lain dari dunia bukan Israel. Tidak tinggal dan memikul beban masalah secara tidak adil, dan akibatnya Israel tidak akan pernah tahan terhadap berbagai ancaman di wilayah yang kehidupannya sulit. Dalam waktu dekat, hanya sepertiga orang Israel yang akan tahan menderita masalah ekonomi dan militer, dan dengan demikian masyarakat tidak akan terbebas dari masalah yang menunggunya. Tidak ada tempat bagi negara yang terdiri dari pengemis dan parasit. Kita membutuhkan negara yang peduli dengan rakyatnya, bukan hanya para pemimpinnya. Kita membutuhkan negara yang menjamin sesuatu untuk ditinggalkan untuk generasi berikutnya."
[IT/AR]
Comment