0
Thursday 9 September 2021 - 16:00

John Wight: 9/11 - Kebencian Hasil Kebijakan Luar Negeri Barat

Story Code : 952959
John Wight: 9/11 - Kebencian Hasil Kebijakan Luar Negeri Barat
Dalam sebuah opini yang diturunkan di situs Press TV, Wight menegaskan bahwa menempatkan 9/11 dalam konteks historisnya yang tepat 20 tahun kemudian merupakan kewajiban orang yang hidup kepada orang yang mati dan bahkan pada orang yang belum lahir.

Wight memaparkan, dirinya tinggal di Hollywood saat 9/11 terjadi dan tidak akan pernah melupakan hari-hari setelah ketakutan dan kebingungan nyata yang melumpuhkan tempat itu. Pada hari berikutnya, jalan-jalan yang biasanya menyemut menjadi sangat sepi. Orang-orang lumpuh karena syok, banyak yang terlalu mati rasa untuk dapat mendiskusikan apa yang baru saja terjadi. Seruan hinaan untuk balas dendam, patriotisme dan nasionalisme yang murni, masih terwujud dalam beberapa hari pertama.

Menariknya ada sekelompok kecil yang memiliki perbedaan pendapat tentang 9/11. Sebut saja Roberto, petugas di garasi parkir tempat dia biasa memarkir mobil berkata padanya, "Anda lihat apa yang terjadi, tuna? Anda lihat apa yang terjadi ketika Anda berkeliling dunia mengebom dan membunuh orang?"

Menurut Wight, dengan pengamatan yang sederhana dan ringkas ini, Roberto secara akurat telah mendefinisikan tidak hanya arti dari kekejaman ini tapi juga kekejaman tak terhitung jumlahnya; yang sudah dilakukan dan akan dilakukan atas namanya.

Sejarah modern tidak dimulai dengan 9/11, tapi itu benar-benar mengubah jalan sejarah sebagaimana serdadu perang menggunakannya sebagai dalih serangan militer paling lama dan merusak sejak Perang Dunia II. Karena alih-alih mencapai dominasi dan penguasaan Timur Tengah dan Asia Tengah, sebagaimana yang diinginkan, perang yang meletus setelah 9/11 berakhir dengan kemunduran yang memalukan dan evakuasi panik dan kacau dari Afghanistan.

Banyak orang dari setiap bagian dunia – Muslim, Kristen, ateis – berbaris dan bersatu melawan invasi Afghanistan. Tragedi 9/11 merupakan salah satu periode paling menginspirasi dan tragis dimana setelahnya, jutaan orang di setiap sudut dunia berkumpul sebagai satu dalam upaya menghentikan perang dengan teriakan damai.

9/11, lanjut Wight, adalah aksi teror terhadap warga sipil tak berdosa atas kejahatan yang dilakukan bukan oleh pihak yang berkuasa atas nama mereka, tapi oleh pihak yang berkuasa atas nama pihak yang berkuasa. Kebencian yang menyulutnya sudah lama terbentuk; kebencian yang dihasilkan oleh kebijakan luar negeri Barat. Ketika sampai pada hal ini, pelajaran penting yang dapat diambil dari 9/11 sebenarnya cukup sederhana. Cara terbaik menghentikan terorisme adalah dengan berhenti melakukan tindakan terorisme - dan cara terbaik untuk memastikan anak-anak 'Anda' aman adalah dengan memastikan bahwa anak-anak 'mereka' aman.

Ketika, misalnya, Madeleine Albright berpendapat dalam wawancara  tahun 1996 tentang urusan terkini AS bahwa 'kami pikir harganya sepadan', ketika ditanya tentang kematian setengah juta anak-anak Irak akibat sanksi AS, dia sebenarnya telah membuka jalan bagi 9/11. Penindasan yang tak berkesudahan terhadap orang-orang Palestina dengan bantuan Barat sebenarnya telah membuka jalan bagi 9/11.

Jelasnya, tandas Wight, ini sama sekali bukan untuk membela 9/11 atau orang-orang barbar yang bertanggung jawab. Akan tetapi untuk memahaminya, demi kepentingan mereka yang belum lahir dan demi mencegah kemungkinan hal seperti itu terjadi lagi.

Perasaan eksepsionalisme yang salah tempat, keyakinan keliru yang mungkin benar dan bahwa nilai-nilai Anda adalah nilai-nilai universal, sejak 9/11 telah menjadi penyebab mendasar dari pembantaian dan kesengsaraan. Peperangan diklaim atas nama demokrasi, hak asasi manusia dan keamanan tapi sebenarnya atas nama imperialisme, hegemoni dan dominasi, telah membunuh dan membuat jutaan orang terlantar, menghasilkan negara-negara gagal, dan memberikan bantuan kepada militan Salafi. Produksi heroin dan korupsi bukan jalan baru dan pendidikan perempuan adalah kisah nyata Afghanistan selama dua dekade pendudukan militer Barat, sementara ISIS adalah hasil paling signifikan dari pendudukan Irak.[IT/AR]



 
Comment