0
Tuesday 7 May 2019 - 08:16

Logika Gencatan Senjata Israel di Gaza

Story Code : 792661
Suasana saling Israel dengan Hamas di Jalur Gaza (Reuters).
Suasana saling Israel dengan Hamas di Jalur Gaza (Reuters).
Terlepas dari semua dukungan penuh yang diungkap oleh Donald Trump kepada Zionis untuk gencatan senjata, John Bolton malah memukul genderang perang dengan mengerahkan Kelompok Serbu Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan sebuah pasukan satuan pengebom ke Teluk Persia dan mengancam Republik Islam Iran dengan "kekuatan tak henti-hentinya".

Jawabannya jelas. Baik AS dan Israel sama-sama sedang menggali parit untuk kuburnya. Mereka tengah menggali liang lahat atas semua rangkaian tindakan barbar ketika menghadapi ketakutan akut dan kekhawatiran akan bayangan mereka sendiri.

Keberanian mereka, kebohongan mereka, penipuan mereka, kegemaran mereka atas terorisme ekonomi, dan lenturan otot-otot militer mereka yang berlebihan, hanya dirancang untuk menyembunyikan kekerdilannya, dan yang terpapar hanya keburukan dan kebobrokan. Di Venezuela mereka menjadi mainan tak berharga bagi Maduro dan militer, kudeta yang mereka rancang gagal total.

Di Gaza? AS dan Israel menjadi sansak hidup untuk uji nyali sekelompok kecil bersenjata, Jihad Islam dan Hamas. Jihad Islam dan Hamas, mampu menembakkan sebanyak 600 rudal dan merontokkan apa yang mereka sebut sebagai "kubah besi" yang memakan banyak korban entitas Zionis.

"Israel menewaskan sekitar 22 warga Palestina dalam empat ratus serangan udara selama dua hari terakhir di Gaza, termasuk dua wanita hamil dan beberapa anak", demikian menurut media Palestina. Sementara jumlah kematian dari pihak Zionis diungkap oleh media mereka dengan menyebut angka kematian "empat" orang, dan menyembunyikan jumlah dari mereka yang terluka. Mengapa? Jelas hal ini dilakukan untuk menutupi ketakutan dan kepanikan yang mendera wilayah-wilayah di bawah kendali Zionis.

Kemudian, rilis rudal baru Jihad Islam dalam sebuah posting video pada Ahad, 05/05/19, mempertontonkan kehebatan rudal Badr 3 saat melintasi kota Ashkelon, 50 kilometer (31 mil) selatan Tel Aviv. Rudal generasi baru itu mampu membawa hulu ledak seberat 250 kilogram (551 lb). Jelas, sebuah lompatan besar dari pendahulunya yang hanya memiliki hulu ledak 40 kilogram yang jauh lebih kecil.

Posting video yang beredar itu memperlihatkan setidaknya empat rudal Badr 3 saat menderu menghiasi gelapnya malam kota Ashkelon pada 4 dan 5 Mei kemarin.

Rudal yang mampu melabrak pembangkit listrik tenaga nuklir Dimona dan Bandara Ben Gurion itu seketika melenyapkan tidur nyenyak Benjamin Netanyahu, Trump, Pompeo dan Bolton yang akhirnya memaksa mereka sepakat untuk sebuah gencatan senjata.

TETAPI, Zionis tidak boleh dipercaya dan tidak harus percaya. Mereka adalah setan, kelalaian terkecil apapun jika dilakukan warga Gaza, itu akan mempunyai konskwensi sangat kejam bagi warga Palestina, seperti yang telah terjadi sebelumnya.

Dan yang melegakan, para pembela Palestina sadar akan fakta-fakta ini. Juru bicara Hamas Abdul Latif al-Kanoo terang-terangan menolak gencatan senjata; "Setiap gencatan senjata yang tidak mengharuskan penjajah (Israel) mengangkat blokade Jalur Gaza akan menjadi rapuh, dan bisa runtuh".

Sementara, Anggota senior Hamas Ismaiel Rizwan dalam wawancara dengan Mehrnews pada Senin, 06/05/19, mengatakan, "roket untuk roket, darah untuk darah, pembunuhan untuk pembunuhan dan penghancuran untuk kehancuran".

Warga Gaza patut dipuji karena semangat perlawanan mereka tak pernah berhenti dalam melawan arogansi rezim Zionis. Mereka patur ditiru, kemampuan mereka untuk mendapatkan, membangun, dan mengimprovisasi alat-alat pertahanan, terutama produksi senjata rudal, terlepas dari semua pengkhianatan yang dilakukan oleh Arab-Arab, dan himpitan yang dilakukan rezim Mesir, Abdel-Fattah al-Sisi.

Mengingat fakta-fakta heroik ini, Bolton dan bosnya di Pentagon harus segera mengunjungi psikiater sebelum menyombongkan "kekuatan yang tak henti-hentinya" untuk melawan kekuatan dan prestise Republik Islam Iran di wilayah dan sekitar.

Satu langkah kesalahan jika dilakukan oleh AS, konsekwensinya akan mengurangi kapal induk, dan satuan pembomnya akan menjadi potongan-potongan logam tidak berguna.

Satu langkah saja AS melakukan kesalahan, maka teroris-teroris CENTCOM akan dikirim kembali ke rumah terbungkus dengan kantong-kantong mayat dari mana saja di wilayah yang luas, membentang dari Afrika Utara sampai ke Afghanistan. Hal yang akan membawa Trump dan preman-preman Pentagon bertekuk lutut. []


 
Artikel Terkait
Comment