0
Wednesday 2 October 2019 - 23:23
Iran - Lebanon:

Jenderal Suleimani dan Fakta-fakta Tak Terungkap dari Perang 33 Hari antara Hizbullah dan Israel

Story Code : 819749
Major General Qassem Suleimani, Iran’s Quds Force Chief.jpg
Major General Qassem Suleimani, Iran’s Quds Force Chief.jpg
Wawancara itu dilakukan dengan Kantor untuk Pelestarian dan Penyebaran Karya-karya Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Imam Ali Khamenei. Dan wawancara ini merupakan yang pertama sang Jenderal Suleimani sejak diangkat sebagai Panglima Brigade Quds.

Berbicara tentang keadaan sekitar perang 33 hari pada tahun 2006, Jenderal Suleimnai mengatakan bahwa Hizbullah sepenuhnya siap dalam berkonfrontasi dengan entitas Zionis ketika gerakan perlawanan Lebanon itu memutuskan menggelar Operasi Janji Jujur dengan dimulai penangkapan dua tentara Zionis Israel dalam baku tembak di perbatasan untuk mengadakan pertukaran tidak langsung dan pembebasan tahanan Lebanon di penjara-penjara Israel.

Rencana Ofensif

Dalam konteks ini, Jenderal Suleimani mengatakan, entitas Zionis pada awalnya merencanakan ofensif cepat terhadap di Lebanon bahkan sebelum operasi perbatasan tahun 2006 berlangsung.

"Kami menyimpulkan sebelum perang ini, penyergapan cepat seharusnya dilakukan untuk menjungkirbalikkan Hizbullah," kata Jenderal Suleimani mengawali pembicaraan dan menyebut bahwa pejabat Zionis Israel mengakui hal itu setelah Perang Juli.

Jenderal Iran itu lebih lanjut mengatakab, tujuan utama dari Perang Juli adalah mengubah demografi di Lebanon selatan, sehingga warga yang tinggal di daerah itu, yang beragam keagamaan dengan Hizbullah, akan dipindahkan dari Lebanon.

Menurutnya, rezim Zionis berusaha mengimplementasikan rencana yang sama seperti apa yang terjadi setelah 1967 kepada Palestina di Lebanon selatan untuk memaksa orang mengungsi dan menetap di berbagai kamp pengungsian di Lebanon, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya.

Imam Khamenei dalam Perang Juli

Mengingat kenangan tentang Perang Juli, Jenderal Suleimani mengatakan, Imam Khamenei menyamakan perang 33 hari dengan Perang Nabi Muhammad Saw (sebagai) Perang Khandak (Parit), atau Pertempuran Konfederasi, dan Hizbullah muncul sebagai pemenang sebagaimana perang Nabi Muhammad Saw dan Muslim menang dalam pertempuran itu.

Terkait dengan kepercayaan diri dan wawasan Imam Khamenei, Jenderal mengatakan, "setiap kali sang Pemimpin meragukan sesuatu, hasilnya akan menjadi kabur, dan kapan pun kekuasaannya mendukung sesuatu, saya percaya akan hal itu."

Jenderal Suleimani dan Haji Imad Mughniyeh

Jenderal Jendral Iran itu kemudian berbicara tentang profil komandan tertinggi Hizbullah Haji Imad Mughniyeh, yang syahid dalam operasi pembunuhan yang dilakukan oleh agen mata-mata Zionis Israel, Mossad di Beirut.

Menurutnya, Imad Mughniyeh secara langsung mengawasi Operation Wa’ad ash Shadiq.

Penuh dengan semangat dan emosi, Jenderal Suleimani menggambarkan Haji Imad Mughniyeh. “Dia adalah seorang jenderal, dalam arti sebenarnya dari kata itu. Dia adalah seorang jenderal dengan fitur yang paling mirip dengan Malik Ashtar di medan perang, ”merujuk pada salah satu sahabat paling setia dari Imam Ali Ibn Abi Talib as dan komandan militer tertinggi di pasukan Muslim saat itu.

Banyak Kenangan

Jenderal Suleiman lebih lanjut berbicara tentang kenangan Perang Juli, dan mengungkapkan bahwa dia sendiri datang ke Lebanon melalui Suriah, menemani Haji Imad Mughniyeh dan bertemu Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah.

Dia juga mengungkapkan, surat yang dikirim oleh pejuang perlawanan ke Sayyid Nasrallah selama Perang Juli adalah ide Haji Imad Mughniyeh.

“Ketika dia membaca surat itu, aku melihatnya menangis. Itu sangat mengesankan. Dan yang paling penting tentang itu adalah surat Sayyid Nasrallah sebagai tanggapan," kata Jenderal Suleimani.

Dia juga ingat saat ketika jenderal Iran itu dan Haji Imad Mughniyeh selamat dari serangan potensial dari pesawat nir awak Zionis Israel di pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh) selama Perang Juli.[IT/r]

 
Artikel Terkait
Comment