0
Sunday 5 January 2020 - 11:59

Kita Semua Soleimani Bung!

Story Code : 836640
Kita Semua Soleimani Bung!
Kedua mobil itu belum sempat keluar dari area Bandara, ketika sebuah helikopter AS menghujani jalan sekitar dua mobil itu dengan tiga roket. Satu pengawal tewas. Dalam hitungan detik, tiba-tiba sebuah drone AS datang memuntahkan dua roket menghantam dua mobil yang membawa Abu Mahdi al-Mohandis dan Komandan Qassem Soleimani. Kedua komandan itu pun Syahid diikuti delapan pasukan al-Hashd al-Shaabi.

Tak lama berselang, Pentagon mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Menurut informasi kredibel, beberapa jam sebelum serangan, pasukan AS meningkatkan penerbangan di atas langit bandara, merebut ruang udara dan melanggar kedaulatan Irak.

Jenderal Qassem Soleimani dibunuh oleh pesawat tak berawak AS. Ia bukan  perwira biasa. Ia sangat berpengaruh dan dihormati di seluruh negeri dan Timur Tengah. Bagaimana tidak? Jendral itu melatih pasukan Irak dan Suriah sampai akhirnya mereka berhasil mengusir kelompok Takfiri ISIS di Irak dan Suriah dalam waktu kurang dari satu tahun, ketika AS dan NATO memperkirakan upaya itu paling tidak akan menyita waktu tiga tahun.

Di dalam kolong istana mewahnya, Trump bermimpi mendapat gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai dari warga AS serta sanjungan masyarakat luas. Ia ‏mengira telah berhasil membunuh 'teroris nomor satu' yang menjadi duri Pentagon!

Pada realitanya, Trump memang butuh dongkrak yang mampu meninggikan popularitas agar bisa terpilih kembali. Sama seperti presiden-presiden AS sebelumnya, ia tak segan membunuh orang, satu atau bahkan jutaan orang. Tentu saja dengan klaim 'membela kepentingan AS'; salah satu kartu  untuk meraih suara rakyat. Ini juga dilakukan Obama. Dia memasuki istana kepresidenan dengan menggelar dua perang di Afghanistan dan Irak. Dan ketika Obama meninggalkan kantor, AS terjerambab ke dalam rawa di tujuh perang di seluruh dunia, di Libya, Suriah, Sudan, Somalia, Pakistan, Afghanistan dan Irak.

Trump melanjutkan tradisi para pendahulunya, yang dipilih berdasarkan agresi, pembunuhan dan genosida. Semakin banyak korbannya di seluruh dunia, semakin besar potensi memasuki istana kepresidenan. Jutaan warga AS tertipu ketika berbondong-bondong pergi ke tempat pemungutan suara. Kenyatannya, presiden AS yang mereka pilih, adalah pilihan sekelompok kecil elit yang mewakili kepentingan hegemoni, Industri Perang, Keuangan Besar, Minyak Besar, Farmasi Besar, dan siapa lagi? Tentu saja, AIPAC (American Israel Public Affairs Committee).

*******

Jenderal Soleimani sangat karismatik, oratorisnya kuat, keberaniannya luar biasa, sikapnya lembut, dan pengabdiannya tak tertandingi dalam mewujudkan cita-cita revolusi Islam. Cinta dan kekagumannya pada Imam Ali Khamenei luar biasa indah. Cinta yang mengalir berdasar hubungan tulus seorang prajurit terhadap komandannya. Totalitas! Bedune Cun va cero. Begitu  orang Iran menggambarkan totalitas pengabdiannya kepada Pemimpin Islam, Imam Ali Khamenei.

Kesyahidannya tidak berarti kemenangan bagi Trump dan para tiran. Ini adalah kemenangan moral bagi tertindas, lencana kehormatan bagi pahlawan yang jatuh bangun tertindas. Revolusi kian hidup. Darahnya menanamkan kehidupan baru dan menginspirasi jutaan revolusioner di masa depan.

Ya, Pemimpin Tertinggi Islam telah kehilangan prajurit paling setia dan berdedikasi, namun Ali tidak akan kehilangan Malik al-Ashtar untuk kedua kali.

Kita kehilangan pahlawan kehidupan nyata, seseorang yang mengilhami jutaan  tertindas untuk bangkit melawan penindas. Jenderal Soleimani mungkin secara fisik tidak bersama kita, tetapi dia telah meninggalkan warisan yang menginspirasi jutaan orang di penjuru dunia. Soleimani tidak mati. Kita semua Soleimani bung!

Washington dan Tel Aviv lemah, lebih lemah dari sarang laba-laba. Tidak tahu cara berfikir jangka panjang, tidak punya strategi benar, hidup hanya untuk kepuasan instan. Washington dan Tel Aviv hanya bersorak sorai sementara, karena kita semua adalah Soleimani! [IT]


 
Artikel Terkait
Comment