0
Friday 21 February 2020 - 23:57
Rusia, Turki dan Gejolak Suriah:

Erdogan: Turki Tidak Akan Mundur dari Idlib Suriah sampai Serangan Damaskus Berhenti

Story Code : 845975
Turkish soldier stands in front of a military vehicles convoy.jpg
Turkish soldier stands in front of a military vehicles convoy.jpg
Kontak telepon antara kedua pemimpin akan membahas Idlib diperkirakan akan berlangsung pada Jumat (21/2) malam. “Hasil pembicaraan ini akan menentukan sikap kami” di daerah itu, kata Erdogan.
 
Pemimpin Turki menyatakan bahwa Ankara tidak akan menarik pasukannya keluar dari Idlib sementara operasi oleh pemerintah Suriah berlanjut di sana.

Provinsi Idlib di barat laut Suriah adalah benteng besar terakhir yang tersisa yang dikendalikan oleh pasukan yang berperang melawan pemerintah Suriah. Beberapa dari kekuatan ini adalah kelompok jihadis dan beberapa teroris yang didukung oleh Turki.
 
Situasi di lapangan memburuk secara dramatis dalam beberapa pekan terakhir ketika Tentara Suriah memperbarui serangannya terhadap apa yang dikatakannya adalah teroris yang menyerang pasukan dan personel Suriah. Turki, sementara itu, menuduh Damaskus membom warga sipil dan menembaki tentaranya.

Pada hari Kamis, gerilyawan yang didukung oleh artileri Turki melancarkan serangan balasan terhadap Tentara Suriah di pedesaan timur Idlib, tetapi diusir dengan bantuan serangan udara Rusia. Ankara mengatakan bahwa dua prajuritnya tewas dalam serangan udara hari itu. Berbicara pada hari Jumat,
 
Erdogan mengklaim pasukannya "menetralisir" sekitar 150 tentara pemerintah Suriah bersama dengan selusin tank dan 14 senjata self-propelled. Media pemerintah Suriah, sementara itu, melaporkan bahwa "lusinan" teroris tewas dalam serangan yang gagal pada posisi Suriah.

Erdogan mengatakan bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan untuk mengadakan pertemuan empat arah di Istanbul dengan Putin pada 5 Maret, dan dia masih belum menerima jawaban Rusia untuk itu.

Moskow menuduh Ankara gagal memenuhi janjinya untuk menyingkirkan kelompok-kelompok jihadis dari zona de-escalation zone' yang dibentuk oleh Rusia dan Turki. Militer Rusia mengatakan pada hari Jumat bahwa teroris menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, mencegah mereka meninggalkan zona pertempuran melalui koridor kemanusiaan yang didirikan oleh Moskow.

Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah mendesak Ankara untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut dengan "menghentikan dukungannya untuk teroris dan mempersenjatai mereka."[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment