0
Wednesday 21 July 2021 - 17:13

Perlawanan Irak: AS Bertanggung Jawab dalam Pengeboman oleh ISIS di Baghdad

Story Code : 944478
Bom Baghdad (TasnimNews).
Bom Baghdad (TasnimNews).
Perlawanan Irak: AS Bertanggung Jawab dalam Pengeboman oleh ISIS di Baghdad

Qais al-Khazali mengatakan dalam sebuah pernyataan hari Selasa bahwa ada motif politik di balik pembantaian berdarah di pasar Woheilat yang ramai di lingkungan timur Kota Sadr, Baghdad, sehari sebelumnya.

Dia mengatakan serangan teror itu terjadi pada malam Idul Adha (Hari Raya Kurban) dan ketika Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi bersiap mengunjungi Washington dalam beberapa hari ke depan.

“Amerika Serikat tengah mencari pembenaran untuk tinggal lebih lama di Irak melalui kehadiran teroris ISIS.Semua orang tahu bahwa ISIS diciptakan oleh AS, rezim Israel dan negara-negara Arab Teluk Persia tertentu, dan dinas intelijen mereka mengendalikan kelompok itu,” kata Khazali seperti dilansir Tasnim News.

Pemimpin PMU Irak mengatakan Amerika Serikat berada di balik peningkatan serangan teror ISIS, menambahkan bahwa Washington bertanggung jawab dalam pembantaian rakyat Irak dan kejahatannya akan ditanggapi dengan tepat.

Ia menambahkan bahwa beberapa individu telah terlibat dalam membantu dan bersekongkol dengan elemen teroris untuk melakukan pengeboman pasar.

Seorang pembom menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai puluhan lainnya di pasar yang ramai di lingkungan Kota Sadr di Baghdad pada Senin malam. Lebih dari 60 orang terluka.

Kelompok teroris ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Sumber rumah sakit mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Gerakan perlawanan Asa'ib Ahl al-Haq, dalam pernyataan terpisah, juga mengecam keras kinerja pemerintah Kadhimi dan pasukan keamanan Irak dalam menanggapi ledakan pasar di Baghdad.

"Kami menyeru pemerintah untuk mengambil tindakan segera untuk menghentikan tindakan kriminal," kata kelompok itu.

Meminta penyelidikan atas kegagalan untuk mencegah tragedi itu, Asa'ib Ahl al-Haq mengatakan tindakan intelijen dan operasi pencegahan harus diambil untuk menghancurkan sarang teroris.

Gerakan anti-teror juga menekankan bahwa Unit Mobilisasi Populer, yang lebih dikenal dengan  Hashd al-Sha'abi, harus diberi peran lebih besar untuk menjamin keamanan dan bahwa pengalaman mereka harus dimanfaatkan.

Didukung oleh PMU, Irak mengakhiri kekuasaan teritorial ISIS di tanahnya pada akhir 2017, lebih dari tiga tahun setelah kelompok teror itu muncul di negara Arab dan merebut petak-petak tanah di bagian barat dan utaranya.

Namun, sel-sel tidur ISIS terus melancarkan serangan teror terhadap pasukan keamanan dan warga sipil dari waktu ke waktu.

Pemboman terbaru, salah satu yang terbesar sejak kemenangan melawan ISIS, menandakan peningkatan kekuatan teroris yang tersisa di Irak, yang secara luas diyakini mendapat dukungan dari AS.[IT/AR]

 
Artikel Terkait
Comment