0
Wednesday 16 May 2018 - 11:55

Israel Pasang Kail di Dataran Tinggi Golan, Iran Tak Sentuh Umpan

Story Code : 725062
Peta Dataran Tinggi Golan
Peta Dataran Tinggi Golan
Dalam sepekan ini, dunia disibukkan dengan berita serangan Israel ke Suriah dengan berbagai jenis rudal dan roket. Alasannya serangan itu sangat sederhana, sebagai aksi balas atas roket-roket Iran yang diluncurkan untuk menargetkan posisi militer Israel secara ilegal di Dataran Tinggi Golan di Suriah.

Situs berita Independent pada Kamis, 10 Mei 2018, memberi judul bombastis dalam berita utama mereka terkait serangan itu. Situs yang didanai Inggris itu menulis, "Israel and Iran on brink of war after unprecedented Syria bombardment in response to alleged Golan Heights attack". The Independent jelas berupaya menggambarkan agresi Israel itu sebagai bentuk pembelaan diri. Tetapi, situs gagal membawa bukti yang bisa dipertanggungjawabkan atas klaim kebenaran Israel itu.

Sekalipun serangan Suriah ke Israel bisa dianggap menguntungkan strategi jangka panjang Iran yang memang memusuhi Israel dan mengharapkan hancurnya Israel, tapi tuduhan itu hanya klaim tidak berdasar karena Iran tidak hadir secara militer di Suriah, sebagaimana yang dilakukan AS dan sekutu. Iran hanya mengirim para ahli militer sebagai penasehat perang bagi Suriah.

Pada tataran praktis, bisa jadi itu adalah kebijakan AS yang menunjuk Israel sebagai provokator untuk memperluas perang proksi Washington melawan Damaskus. Hal yang sebenarnya mengungkap permainan mematikan dan penipuan yang sekarang dimainkan oleh Israel dan media Barat.

Selama bertahun-tahun, para pembuat kebijakan AS dalam berbagai makalah mengakui dan menginginkan perubahan rezim di Iran dan berusaha memprovokasi perang untuk mencapainya.

Brookings Institution yang sponsornya termasuk produsen senjata, perusahaan minyak, bank, dan kontraktor pertahanan - menerbitkan sebuah makalah tahun 2009 berjudul, "Which Path to Persia? Options for a New American Strategy Toward Iran". Dalam makalah itu, Brookings tidak hanya menyebutkan keinginan AS untuk mengubah rezim di Iran tetapi menyusun sejumlah opsi untuk mencapainya.

Silahkan buka disini: https://www.brookings.edu/wp-content/uploads/2016/06/06_iran_strategy.pdf

Opsi-opsi itu termasuk mensponsori protes jalanan bersama-sama dengan organisasi teroris yang dikenal untuk melancarkan perang proksi terhadap Iran seperti yang dilakukan di Libya dan Suriah. Termasuk memprovokasi Iran untuk berperang, tentu sebuah perang yang disengaja oleh para pembuat kebijakan. Hal yang ingin dihindari oleh Iran.

Brookings juga mengakui bahwa Iran tidak akan membalas, bahkan terhadap provokasi yang paling terang-terangan sekalipun, termasuk serangan udara dan rudal AS atau Israel.

Brookings memahami bahwa serangan udara besar-besaran terhadap Iran tidak akan mencapai tujuan AS, dan perubahan rezim serta serangan udara harus menjadi bagian dari strategi yang lebih luas termasuk perang proksi atau perang skala penuh yang dipimpin oleh AS.

Dalam tulisan Brookings terbaru pada Maret 2012 berjudul, "Saving Syria: Assessing Options for Regime Change", Brookings secara lugas mengakui peran Israel, terutama pendudukannya atas Dataran Tinggi Golan, untuk memberi tekanan konstan pada Suriah untuk membantu perubahan rezim di sana. Berikut penggalannya, "

Silahkan baca; https://www.brookings.edu/wp-content/uploads/2016/06/0315_syria_saban.pdf

Ternyata tujuan AS di tahun 2012 untuk mengambil tekanan Suriah via "oposisi" telah gagal, karena teroris yang disponsori AS-NATO-Teluk berhasil dikalahkan di dalam wilayah Suriah, kecuali wilayah kecil di perbatasan dan wilayah yang diduduki oleh pasukan AS di timur.

Sebaliknya, peran Israel sekarang juga berubah , baik melalui tekanan terhadap Suriah, yang kemudian mencoba memprovokasi Ira,- untuk memprovokasi perang yang jauh lebih luas dengan Suriah dan sekutunya ,- termasuk Iran,- dengan meluncurkan provokasi terhadap Suriah seperti yang dijelaskan Brookings 2009, "Which Path to Persia?"

Terlepas dari serial provokasi Israel yang tak terjawab selama bertahun-tahun oleh Suriah, setiap serangan digambarkan oleh media Barat dipoles sebagai bentuk pertahanan. Pada awal Mei ini, ketika pasukan Suriah akhirnya melakukan pembalasan, media Barat berusaha menggambarkannya sebagai serangan tak beralasan, mengutip pejabat militer Israel yang mengklaim sebagai "rudal Iran" yang ditembakkan ke Dataran Tinggi Golan ,- dari sumber-sumber di darat ,- baik Israel dan Suriah mengatakan yang sebaliknya.

Realitas memalukan menjadi penyebabnya, perang Israel di Libanon pada 2006 yang dilakukan dengan kekuatan udara luas, gagal total mencapai tujuan Israel. Invasi darat gagal di selatan Libanon dan menghasilkan kekalahan memalukan bagi pasukan Israel. Sementara kerusakan luas yang melantakkan infrastruktur Libanon, negara dan khususnya gerakan Hizbullah, telah pulih kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Demikian pula di Suriah, serangan udara Israel dan serangan rudal tidak mampu mengubah apa pun untuk mengalahkan Suriah atau mengubah nasib gagal Barat untuk mencapai perubahan rezim. Mereka hanya berfungsi sebagai sarana provokasi pembalasan yang menghibur bagi Barat untuk menyebut sebagai Casus Belli, "Aksi atau insiden yang memicu peperangan" untuk operasi yang jauh lebih luas yang mungkin mempengaruhi perubahan rezim.

Suriah dan sekutu, termasuk Iran berhasil menghapus kekuatan proksi luas AS dan sekutu-sekutu bersenjata dan didanai untuk menggulingkan pemerintah Suriah sejak tahun 2011. Sisa-sisa kekuatan proksi ini masih memegang perbatasan Suriah, dan berada di wilayah AS dan Turki.

Memang, sebagian Suriah sekarang di bawah kendali tentara pendudukan asing. Turki mengontrol bagian Suriah utara, dan Amerika Serikat menduduki wilayah timur Sungai Eufrat. Sementara integritas teritorial Suriah sangat penting dan Suriah memiliki posisi yang jauh lebih baik untuk merebut kembali wilayah yang saat ini masih dikuasai asing. [Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times]



 
Artikel Terkait
Comment


{DOC_TRANSLATES_BLOCK}