0
Friday 11 September 2015 - 15:07

The WikiLeaks Files: Rencana AS Gulingkan Assad Jauh Sebelum 2011

Story Code : 485268
Confidential (ilustrasi)
Confidential (ilustrasi)
Kekuatan predator Barat dan boneka regional mereka termasuk Arab Saudi, Qatar, Turki, Yordania dan Israel, tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa pemberontakan di Suriah adalah hasil konspirasi asing yang didukung oleh negara-negara tersebut. Julian Assange pendiri situs WikiLeaks mengkonfirmasi hal itu dalam buku terbarunya, The WikiLeaks Files: The World According to US Empire. Dalam buku itu dijelaskan, pada awal 2006, AS telah merencanakan untuk menggulingkan pemerintah sah Presiden Bashar al-Asad.

Buku yang dieditori oleh Sarah Harrison, tim wartawan, dosen, dan penulis itu penuh analisis ilmiah membuka mata dari kumpulan kabel diplomatik yang dipublikasikan oleh kelompok WikiLeaks, dengan fokus pada tahun 2010-2011. Sebuah pengungkapan Cablegate.

Sejumlah besar data dan pengenalan menyeluruh narasi kebijakan AS tertuang dalam buku tersebut yang kesemuanya berdasarkan data kabel diplomatik. Bagian pertama buku dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan topik politik, seperti hubungan dengan diktator dan strategi ekonomi. Dibagian kedua buku terfokus pada analisa dan cerita latar belakang sebuah agenda besar AS, yang menyoroti negara-negara tertentu dan wilayah sekitar;  berdasarkan database Wikipedia Plusd (Public Library of US Diplomacy), database yang bocor dari kabel Departemen Kebijakan Luar Negeri AS mengenai Mahkamah Pidana Internasional.

Tentu saja beberapa pengetahuan tentang terminologi politik sangat diperlukan untuk memahami penelitian buku, terutama bagi pembaca yang sebelumnya memang tertarik pada politik dan kebijakan luar negeri AS. Wawasan dari para peneliti dalam buku memberikankan sumber informasi sangat baik dan dasar kuat untuk penelitian lebih lanjut oleh para ahli atau pembaca.

Jauh sebelum yang apa yang disebut sebagai pemberontakan di Suriah yang meletus pada Maret 2011, AS telah merencanakan untuk mengacaukan negara itu sebagai bagian dari agenda perubahan rezim.

Sementara pengamat informasi bisa memahami ini melalui berbagai sumber termasuk dari Jenderal Wesley Clark yang pada 7 Maret 2007 saat wawancara dengan Democracy Now, dan sebuah arikel pada 17 April 2011 di Washington Post oleh Julian Assange, pendiri WikiLeaks yang  memberikan informasi tambahan Craig Whitlock tentang bagaimana drama mesum ini terjadi.

Dalam dalam buku baru itu, Julian Assange mengungkapkan bagaimana kemudian duta besar AS untuk Suriah, William Roebuck dalam kabel 2006 untuk Washington menguraikan rencana untuk menggulingkan pemerintah Bashar al-Asad.

"Rencana itu adalah dengan menggunakan sejumlah faktor berbeda untuk menciptakan paranoia dalam pemerintah Suriah; mendorong reaksi berlebihan, untuk membuatnya takut adanya kudeta," kata Assange pada 9 September 2015 menukil laporan RT.

Sektarianisme adalah bagian utama dari plot ini, sementara Arab Saudi dan Mesir menciptakan ketegangan antara kelompok Syiah dan Sunni serta mempromosikan rumor dan membesar-besarkan -,yang diketahui palsu-, terhadap Iran.

Assange mengatakan, satu kabel tertentu cukup menceritakan dengan tegas mengenai rencana AS di wilayah itu. Menurut Assange, semua sangat jelas di dalamnya. Dan untuk memahami apa yang terjadi di dalam dan sekitar Suriah, semua aliansi regional harus diperiksa dengan cermat.

"Sebagian dari masalah di Suriah adalah bahwa Anda memiliki sejumlah sekutu AS di sekitarnya, terutama Arab Saudi dan Qatar yang menyalurkan senjata. Turki juga aktor yang sangat serius. Mereka masing-masing memiliki ambisi hegemonik sendiri di wilayah tersebut. Israel juga, tidak diragukan lagi, jika Suriah cukup stabil, mungkin dapat menjaga Dataran Tinggi Golan selamanya, atau bahkan memajukan wilayah itu," katanya.

Dalam analisa dan tulisan Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times sebelumnya, berulang kali mengungkap plot asing di Suriah termasuk soal pertemuan Februari 2011 di Paris yang dihadiri oleh tokoh-tokoh oposisi Suriah didikan AS, Israel dan Arab Saudi dengan semua bantuan jika mereka melancarkan pemberontakan bersenjata. Bahkan hadir dalam pertemuan itu selain tokoh oposisi Suriah dipengasingan, juga hadir duta besar AS untuk Israel Dan Shapiro, duta besar AS untuk Libanon Jeffrey Feltmen dan kemudian kepala intelijen Saudi Bandar bin Sultan.

Konspirasi ini diungkap oleh Haytham Manna, kepala Komite Koordinasi Lokal untuk Perubahan Demokratik di Suriah yang hadir pada pertemuan Paris yang menolak tawaran pemberontakan bersenjata.

Manna merasa cukup benar--bahwa pemberontakan bersenjata akan merusak posisi oposisi, dan bersikukuh menolak. Beberapa minggu kemudian, pemberontakan bersenjata dimulai di Deraa, sebuah kota non-descript beberapa mil dari perbatasan Yordania.

Sejak kekacauan dimulai di Suriah, diperkirakan 250.000 orang tewas, hampir setengah dari mereka tentara Suriah dan milisi. Jutaan lainnya mengungsi dari rumah mereka.

Semua ini dilakukan sebagai bagian dari konspirasi untuk melindungi rezim Zionis karena Suriah adalah bagian dari depan perlawanan terhadap pendudukan Zionis dari Libanon dan Dataran Tinggi Golan. [Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times/Onh/Ass]
Artikel Terkait
Comment