0
Tuesday 19 January 2016 - 16:56

Bom Thamrin: Lonceng Bahaya

Story Code : 513576
Bom di Starbuck, Jakarta (lensaindonesia).
Bom di Starbuck, Jakarta (lensaindonesia).
Dulu, untuk eksekusi sebuah solusi yang mengandung bahaya, orang mencontohkan sekumpulan tikus yang ingin memasang lonceng di leher kucing. Bukan solusinya yang tidak ditemukan tapi sulit menemukan siapa yang akan melaksanakannya (eksekutor).

Kini, eksekusi model ini bisa dilaksanakan karena keberadaan kelompok teroris semisal al-Qaeda dan ISIS yang siap menjadi tikus pemasang lonceng di leher kucing. Di mata mereka, kematian seperti itu bak perkawinan dengan bidadari surga. Karena itulah mereka selalu siap memasang lonceng atau tewas mengenaskan diterkam kucing.

Kelompk teroris seperti ISIS tidak lebih dari tikus eksperimental atau lebih buruk lagi, tikus mainan bagi negara-negara adikuasa agar mereka bisa terus menguasai dunia. Mereka menyuntikkan serum ideologi pada tikus-tikus mainan itu, hingga tikus-tikus itu seolah tengah menjalankan tugas ideologi. Sayangnya, serum ideologi itu membawa nama Islam. Dan hasilnya, kaum Muslimin pun menjadi korban.

Inilah tujuan misi tikus al-Qaeda/ISIS di dunia atau misi yang harus mereka bawa dalam menjalankan strategi adikuasa untuk menguasai sumber-sumber alam di dunia, yang kebetulan banyak terdapat di negara-negara Muslim. Maka cara terbaik yang mereka pakai untuk merusak lumbung kaum Muslimin adalah menggunakan tikus yang membawa nama Islam juga.

Apa yang terjadi di perempatan Sarinah, jalan Thamrin, adalah sebagaian dari misi tersebut. Tidak lebih. Misi negara adikuasa dunia untuk menguasai Indonesia, menguasai semua sumber alam dan sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia. Modus seperti ini susah sering dipakai di berbagai tempat, seperti Beirut Lebanon, Paris Perancis dan banyak tempat di Suriah dan Irak. Apa yang terjadi di Jakarta baru-baru ini mungkin saja baru di Indonesia, tapi itu sudah tidak baru di dunia. Tikus-tikus ini sudah menjadi permainan besar negara adikuasa untuk menjaga kepentingan mereka di dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Maka fokus permasalahan yang harus diperhatikan bangsa Indonesia adalah misi yang ada di balik pemboman yang terjadi, bukan hanya indentifikasi tikus-tikus mainan, tapi visi pemain yang berada di balik kejadian. Yaitu penyuntik ideologi dan pengatur misi global di balik rangkaian kejadian ini. Juga fokus pada misi negara adikuasa untuk Indonesia, karena “pengantin” ini hanya mainan, dan misi sesungguhnya bukan “pesta perkawinan” tikus mainan, tapi ini adalah usaha negara adikuasa menguasai Indonesia.

Peristiwa ledakan dan penembakan di perempatan Sarinah adalah lonceng bahaya bagi Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya dalam masalah keamanan, tapi juga politik, ekonomi, budaya dan ideologi bangsa.

Pada satu sisi, peristiwa itu memang langsung berhubungan dengan unsur keamanan yang terkait dengan kepolisian, tentara dan intelijen negara. Peristiwa itu merupakan kasus nasional dan transnasional. Banyak detail unsur yang ada dalam peristiwa itu menyangkut masalah nasional dan internasional.

Di sisi lain, “lonceng” ini adalah lonceng ancaman bagi negara, bangsa dan semua yang dianggap oleh adikuasa sebagai penghambat atau potensi penghambat kekuasaan mereka di Indonesia. Negara kita dianggap oleh negara adikuasa sebagai Host Nation atau Negara Tuan Rumah untuk keamanan, politik dan ekonomi mereka. Maka negara adikuasa dunia “perlu” mengambil langkah pengamanan sehingga mereka dapat melakukan penetrasi lebih dalam agar semua misi di Indonesia berjalan sesuai keinginan mereka.

Ledakan itu adalah lonceng untuk Indonesia, bahwa adikuasa sedang berekasi atas politik yang sedang terjadi di Indonesia, yang di mata negara adikuasa, merupakan sebuah ancaman. Politik yang dimainkan Presiden Jokowi mengancam kepentingan adikuasa dunia di Indonesia secara khusus dan di Asia Tenggara secara umum.

Itu juga merupakan peringatan negara adikuasa bagi Indonesia agar tetap sejalan dengan keinginan adikuasa dan tidak bertindak merugikan mereka.

Di saat yang sama, lonceng ini juga menunjukkan pada Indonesia bahwa negara adikuasa tengah berusaha masuk lebih jauh ke dalam kehidupan politik, ekonomi dan budaya bangsa melalui pintu keamanan, polisi, tentara dan intelijen.

Dan secara langsung, peristiwa itu juga lonceng bahaya bagi komunitas Syiah karena negara adikuasa melihat pengikut mazhab Syiah sebagai potensi penghambat misi mereka, karena lewat tindakan intoleransi, para "pengantin" itu akan mempermudah adikuasa masuk ke dalam masyarakat dan menyingkirkan potensi ancaman yang ada. Negara adikuasa melihat pengikut mazhab Syiah sebagai potensi penghambat misi mereka, karena sistim kepemimpinan Syiah yaitu Imamah dan Wilayatul Faqih serta pemahaman Syiah tentang siapa musuh Islam yang sebenarnya.

Modus operandi yang sama juga terjadi di seluruh dunia, mulai Afrika sampai Asia. Negara adikuasa berusaha menggunakan semua potensi dan sekutunya untuk menghadapi para pengikut mazhab Syiah.

Untuk itu, masyarakat dan pemerintah Indonesia perlu menyadari bahwa mereka bukan sekedar berhadapan dengan penembakan atau ledakan yang dilakukan beberapa “teroris”. Mereka tengah berhadapan dengan sebuah agenda global yang diorkestrai oleh negara adikuasa untuk menjaga kepentingan mereka di Indonesia.

Bangsa Indonesia harus mengaktualisasikan semua potensi yang dapat mempertahankan kepentingan nasional dan bangsa hingga Indonesia bisa bertahan dari “penjajahan modern” yang kini menguasai dunia.

Bangsa Indonesia perlu memahami, bahwa pemecahbelahan unsur bangsa, kepentingan politik dan ideologi bangsa merupakan titik-titik sangat rentan yang dapat dipakai sebagai jalan pintas oleh negara adikuasa untuk lebih dalam menguasai bangsa Indonesia.

Maka tugas para pemikir dan intelektual serta semua unsur negara adalah mengajarkan dan menyadarkan bangsa Indonesia agar tidak terlena dengan gemerincing lonceng berbahaya ini dan menjaga persatuan agar bisa mengalahkan plot negara adikuasa.[IT]
 
Comment