0
Sunday 27 September 2020 - 20:34

Jendral Bagheri: Israel Akan Runtuh Jika Dukungan Barat Berhenti

Story Code : 888745
Jendral Bagheri (Tehran Times).
Jendral Bagheri (Tehran Times).
"Dulu, moto rezim Zionis adalah 'dari Nil ke Efrat' tapi hari ini, rezim terkepung dan harus menemukan solusi untuk migrasi balik orang Yahudi," kata Mayjen Mohammad Bagheri dilansir Tehran Times.

"Ada protes siang dan malam di depan perdana menteri kriminal rezim Zionis, dan ketidakstabilan menyebar di sana," tambahnya.

Pernyataan Bagheri muncul menjelang hari-hari terakhir Pekan Pertahanan Suci, yang memperingati para martir dan veteran perang 8 tahun Irak melawan Iran pada 1980-an.

Tentara Irak menginvasi Iran pada 22 September 1980. Dengan dukungan negara-negara Arab dan Barat tertentu, Saddam Hussein memerintahkan serangan ke Iran hampir 19 bulan setelah Revolusi Islam. Perang kemudian berakhir pada Agustus 1988, dengan PBB menyatakan Saddam sebagai pemrakarsa perang.

Menurut statistik resmi, 225.570 orang Iran menjadi martir dan 574.101 menjadi cacat selama Pertahanan Suci. Juga, jumlah tawanan perang yang dibebaskan adalah 43.173.

"Pertahanan Suci telah membentuk Hizbullah Libanon dan perlawanan Yaman," kata Jenderal Bagheri, menambahkan, "Sebagai hasilnya, jangkauan Pertahanan Suci telah menjangkau jauh lebih jauh di luar perbatasan kita."

Dia juga menunjuk pada normalisasi hubungan antara "rezim reaksioner kawasan dengan rezim Zionis", mengatakan UEA telah mengirim banyak pesan ke Iran dalam dua tahun terakhir mengatakan bahwa mereka tidak seperti Saudi dan ingin bersahabat dengan Iran.

"Kami memutuskan untuk mengabaikan kesalahan mereka dan dukungan mereka terhadap sanksi [terhadap Iran]," katanya.

Namun, lanjut Bagheri, kesepakatan mereka dengan rezim Zionis benar-benar mengubah sikap Iran terhadap mereka.

"Jika Zionis memasuki wilayah ini [Teluk Persia] dan terjadi insiden yang akan mengganggu keamanan dan pertahanan nasional kami, kita akan melihat mereka [negara-negara yang menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel] sebagai basis musuh dan kita akan menangani mereka dengan cara yang sama kami berurusan dengan musuh," Jenderal Bagheri memperingatkan.

Bahrain dan UEA baru-baru ini mengambil langkah langka untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Kesepakatan normalisasi yang ditengahi AS ditandatangani pada 15 September di Gedung Putih yang dihadiri oleh pejabat tinggi AS dan pejabat asing termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Abdullah bin Zayed, menteri luar negeri UEA, dan Abdullatif al-Zayani, Menteri Luar Negeri Bahrain.

Kesepakatan telah dikecam secara luas dalam opini publik dunia Arab, dengan beberapa negara di kawasan itu, termasuk Iran, mencela kesepakatan itu sebagai pengkhianatan. Iran mengecam kesepakatan normalisasi sebagai "kebodohan strategis" dan "pengkhianatan" terhadap rakyat Palestina.[IT/AR]
Artikel Terkait
Comment