0
Thursday 29 October 2020 - 15:55

BI: Anggota OKI Harus Gesit Integrasikan Ekonomi Islam dan Digita

Story Code : 894744
Sugeng (Antara).
Sugeng (Antara).
Sugeng menuturkan hal itu perlu dilakukan mengingat aspek digitalisasi menjadi penting sejak pandemi COVID-19 mengubah cara hidup masyarakat dalam berkomunikasi maupun beraktivitas.

“Dalam kondisi ini kami ingin kegiatan ekonomi tetap berjalan.  Jadi digitalisasi menjadi penting. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal negara-negara OKI perlu gesit mengintegrasikannya,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis, sebagaimana dilansir Antara.

Mneurut Sugeng, ekonomi dan keuangan Islam memiliki potensi sangat besar jika diintegrasikan dengan digitalisasi. Ekonomi dan keuangan Islam yang dulunya sangat terbatas pada instrumen keuangan syariah yang ditawarkan melalui bank syariah sekarang telah dikembangkan dalam definisi lebih luas.

Saat ini, lanjut Sugeng, ruang lingkup ekonomi dan keuangan Islam mencakup rantai nilai halal, media dan rekreasi Islami, pariwisata Islami, apotek dan kosmetik halal termasuk keuangan sosial dan komersial Islami.

Kemudian, berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2019-2020 disebutkan belanja konsumsi secara global di berbagai sektor ekonomi Islam diperkirakan mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS pada 2024 atau meningkat 45 persen dari 2,2 triliun dolar AS pada 2018.

Karena itu, Sugeng menuturkan, pengeluaran yang sangat besar di berbagai sektor ekonomi dan keuangan Islam akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru jika diintegrasikan dengan digitalisasi.

“Dengan potensi yang begitu besar maka banyak negara yang mengalihkan fokusnya untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan Islam meski bukan negara mayoritas Muslim,” ujarnya.

Thailand dan Korea Selatan, meskipun bukan negara dengan masyarakat mayoritas Muslim, namun telah memperhatikan pengembangan pariwisata ramah Muslim, lanjutnya.

“Thailand telah menyatakan negara mereka sebagai dapur halal dunia dan Korea Selatan menyatakan diri sebagai destinasi ramah turis muslim dunia,” katanya.

Tak hanya Thailand dan Korea Selatan, China juga merupakan negara produsen busana muslim terbesar meski mayoritas masyarakatnya non Muslim.

“Mereka menjualnya melalui platform digital. Untuk itu negara OKI tidak boleh ketinggalan,” pungkasnya.[IT/AR]

 
Artikel Terkait
Comment